Pergulatan 30 Tahun Membesarkan Toko Roti Majestyk

Thursday, September 23, 2010

Toko roti asli Medan ini tetap eksis di tengah gempuran toko roti modern saat ini. Kondisinya makin berkembang di tangan generasi kedua. Bagaimana Anderson Nyam membesarkannya?

Majestyk Bakery & Cake Shop asli Medan, Bung!” kata seorang pria Medan yang sudah lama tinggal di Jakarta bangga. Ya, Majestyk Bakery & Cake Shop yang sudah tersebar di beberapa lokasi di Jakarta memang salah satu kebanggaan warga Medan. Di Ibukota Sumatera Utara itu, namanya sangat dikenal dan telah menjadi identitas kota itu.

Kekuatan itu bisa dimengerti karena Majestyk sudah lebih dari 30 tahun melayani pelanggannya. Eksis sejak 1976 sebagai toko yang menjual aneka roti, kue dan susu, awalnya namanya bukan Majestyk. Ketika itu, Farida Auw dan suaminya cuma mendirikan toko kelontong kecil-kecilan di pinggir jalan. Di tempat yang sama, mereka juga membuat serta menjual roti dan kue.

Barulah pada 1984, ketika Anderson Njam mengambil alih bisnis orang tuanya, dilakukan perubahan besar-besaran, termasuk mengganti nama. Anderson yang waktu itu berusia 18 tahun bersama orang tuanya nekat melakukan perombakan menyeluruh, mulai dari mengubah sistem pengelolaan agar lebih profesional, mengganti mesin produksi dengan yang lebih modern, menambah jenis produk yang diperdagangkan, hingga menggunakan nama dagang baru: Majestyk. “Majestyk berarti kebesaran, seperti kerajaan. Mudah-mudahan seperti itu,” ucap Anderson.

Keberanian Anderson mengambil alih bisnis roti orang tuanya tersebut tentu bukan sekadar bermodal nekat. Kebetulan, ia berminat menekuni bisnis roti dan punya keahlian membuat kue. Maklum, sejak kecil ia sudah diperkenalkan dengan bisnis roti oleh orang tuanya. Bahkan, setiap liburan sekolah ia selalu bekerja paruh waktu sebagai penjaga toko. Selain mendapatkan tambahan uang saku, ia juga memperoleh pengetahuan tentang cara membuat roti dan cara berkomunikasi yang baik dengan konsumen.

Dengan semangat kuat ingin mengembangkan bisnis roti yang dirintis orang tuanya, Anderson pun membeli ruko di Jl. Gatot Subroto, Medan. Dari sinilah toko roti Majestyk mulai dikembangkan secara lebih serius, profesional dan modern.

Sistem manajemen yang lebih profesional diterapkan Anderson guna mengembangkan Majestyk. Berbeda dari orang tuanya, dalam menjalankan bisnis ia menanamkan prinsip “tidak boleh ada campur tangan anggota keluarga”. Artinya, jika suami terlibat, istri tidak boleh turut campur. Demikian pula sebaliknya. Hal ini untuk menghindari terjadinya konflik kepentingan. Ia pun menerapkan sistem pendelegasian wewenang ke setiap departemen. “Sekarang tidak lagi one man show. Dengan perubahan ini, sudah ada delegasi untuk setiap tanggung jawab ke setiap departemennya,” Anderson menjelaskan.

Modernisasi dilakukan pula terhadap mesin produksi. Sebelumnya hampir 80% pengerjaan roti dilakukan secara manual (dengan tangan), sedangkan kini peran mesin mencapai 60%. “Hal ini terjadi karena sudah ada sebagian mesin yang lebih canggih dan otomatis,” kata Anderson. “Tetapi, base-nya dengan arah tradisional. Jadi, peran manusia masih tetap penting dalam produksinya.”

Kendati begitu, perubahan mesin dilakukan sesuai dengan keinginannya. Anderson biasa mengubah sendiri setingan alat itu untuk mendapatkan rasa produk yang sesuai dengan keinginannya. Jadi, ketika membeli mesin, ia tidak langsung menggunakannya, tetapi terlebih dulu dilakukan pengesetan sesuai dengan keinginannya. “Beberapa orang membuat dengan menggunakan machinery seperti tunnel oven, tetapi kualitasnya bisa berbeda. Karena itu, saya sesuaikan sendiri,” katanya memberi alasan.

Menurut Anderson, peralihan produksi dari manusia ke mesin memang sangat signifikan dalam hal peningkatan produksi. Misalnya, satu orang dalam satu jam hanya bisa memproduksi 9 loyang kue legit. Sementara lima orang yang bekerja dengan menggunakan mesin bisa memproduksi 360 loyang kue.

Selain menerapkan sistem manajemen terkontrol dan modernisasi mesin produksi, Anderson pun menstandardisasi mutu dan kualitas. Ini dilakukan seiring dengan bertambahnya cabang Majestyk, sehingga perlu adanya standardisasi mutu dan rasa di setiap cabang. Untuk itu, ia menerapkan sistem premix, yaitu dengan pembagian central purchasing dan central mix. Ini merupakan sentralisasi pembelian bahan baku dan pencampuran bahan baku sebelum dibuat

menjadi kue jadi. “Untuk purchasing saya menerapkan pembelian satu macam produk untuk produksi. Tidak bisa dibuat main-main. Jadi, misalnya, saya bilang di Jakarta belinya segini, di Medan beda lagi, tidak bisa. Jadi, pembeliannya satu sentral.”

Namun, walaupun pembelian dan pencampuran bahannya tersentral, tidak semua produksi kue dilakukan secara terpusat. Beberapa produksi bisa dilakukan di cabang. Untuk pengaturan pembuatannya, Anderson memberikan bagian-bagian yang khusus untuk kontrol mutu dan trial buat produksi kuenya. “Beberapa produksi di cabang ditentukan kapasitas buyers-nya. Maka, ada yang produksi sedikit, ada yang banyak,” katanya.

Sumber daya manusia (SDM) sebagai salah satu aspek penting dalam pengembangan bisnis pun tak luput dari pembenahan. Misalnya, guna meningkatkan kinerja dan pengetahuan karyawannya, Anderson kerap mengirim mereka untuk mengikuti pelatihan atau event di luar negeri, antara lain pelatihan produksi. Pengiriman itu bukan hanya untuk peningkatan wawasan di bidang produksi roti, tetapi juga wawasan bisnis. Menurutnya, hal itu berkaitan erat karena tanpa sisi bisnis, pembuatan roti tidak akan berjalan baik.

Namun, pengiriman pelatihan karyawan tersebut hanya dikhususkan pada manajemen produksi dan pemasaran, tidak mencakup bagian administrasi. Pengiriman karyawan juga ditujukan untuk melihat perkembangan pasar kue di luar negeri. “Setiap negara seperti Malaysia, Hong Kong, Singapura dan Filipina kan tempatnya lain. Jadi, tidak melulu melihat dari bisnis roti saja, tetapi juga melihat perkembangan makanan secara keseluruhan. Nanti dari situ baru melihat aplikasi apa yang bisa diterapkan untuk bakery,” ujar Anderson sembari tersenyum.

Tak hanya itu. Sejak 2005 Anderson mengikutsertakan pegawainya di level manajemen produksi, operasional dan administrasi untuk ikut memiliki perusahaan dengan sistem pembagian saham. Pria kelahiran 1966 yang belakangan memasuki bisnis properti khusus RSS ini juga menawarkan rumah kepada karyawannya yang belum memiliki rumah. Mereka diberi subsidi uang muka dan keringanan mencicil. “Prinsip saya, jika karyawan makmur, sebagai atasan juga akan semakin makmur.”

Di luar itu, inovasi produk terus dilakukan. Setiap bulan sekitar empat jenis roti baru diperkenalkan. Kini, Majestyk memiliki ratusan jenis roti dan kue. Anderson pun sangat memperhatikan sensitivitas pembeli terhadap harga, sehingga harga kue dan rotinya pun sangat terjangkau, mulai dari Rp 1.500/potong hingga ratusan ribu. Harga yang dipatok sama di setiap gerai.

Berkat kerja keras dan kegigihan Anderson, kini Majestyk menjadi salah satu ikon Kota Medan. Didukung sekitar 500 karyawan, yang kebanyakan sudah bertahan puluhan tahun, kini Majestyk memiliki 41 gerai yang tersebar di Sumatera dan Jawa. Produktivitas Majestyk ditopang dua pabrik besarnya yang mempunyai kapasitas produksi 3.000 ton per jam. Juga, didukung beberapa pabrik kecil yang memiliki kapasitas kerja dan sistem distribusi berbeda. “Tahun ini kami targetkan jumlah outlet Majestyk mencapai 50. Saat ini kami juga sedang mempersiapkan sistem franchise,” ujar Anderson.

Selain itu, untuk menghadapi persaingan yang kian sengit, Majestyk telah mempersiapkan sistem integrasi terpadu sejak dua tahun lalu. Kini mereka memiliki kandang ayam sendiri yang mampu menyuplai kebutuhan telur, dan kebun buah untuk kebutuhan pembuatan aneka selai. Lalu, untuk memelihara loyalitas pelanggan, Majestyk juga menawarkan club member bagi pelanggan setia. Setiap tahun, pihak toko menyelenggarakan member gathering untuk melayani konsumen. “Dengan terus melakukan inovasi dan perbaikan di semua bidang, Majestyk mampu bertahan hingga sekarang,” ungkap ayah Tommy, Evelyn dan Andrew ini bangga.

Kendati begitu, diakui Anderson, tidak berarti upaya pengembangan Majestyk yang dilakukannya selalu berjalan mulus. Cukup banyak liku-liku yang dihadapi hingga Majestyk bisa seperti sekarang. Misalnya, ketika akan mengembangkan bisnis, ia mesti menjual rumah dan mobil demi menambah modal kerja. Itu terjadi pada 1987, ketika ia ingin membeli ruko yang ada di sebelah ruko pertamanya. “Setelah semua dijual, yang tersisa hanya satu unit sepeda motor untuk transportasi, dan itu masih ada di garasi hingga sekarang,” kata Anderson sambil tertawa.

Hal serupa juga dialaminya menjelang masa krisis 1998. Anderson mengakui saat itu merupakan masa tersulit yang harus dilaluinya. Menurunnya omset penjualan, karena berkurangnya pembeli, menyebabkan Majestyk hampir bangkrut. Namun, ia memutuskan tetap bertahan, tidak menutup usahanya. Salah satu cara yang dilakukannya adalah menjual aset. Ketika itu, ia menilai lebih aman memegang dana tunai untuk persiapan modal daripada menyimpan aset nonproduktif. Maka, ia menjual rumah dan mobil, kecuali rumah tinggal dan toko. Dan, dengan tambahan modal itu, pada 1999 ia mulai menambah gerai. “Momen 1998 saya pandang tepat saat itu karena saat orang mulai susah berbisnis, Majestyk justru merasa itu peluang emas untuk merebut pasar,” ujarnya bangga.

Menurutnya, pelajaran yang harus diingat dalam mengembangkan bisnis adalah jangan pernah memikirkan profit dulu, tetapi kembangkanlah profesionalitas. “Kebanyakan orang hanya

berpikir seperti itu. Seharusnya dikembangkan profesionalitasnya, nanti profit akan mengikuti,” ungkap Anderson. “Tentu saja masalah akan selalu ada, tetapi jangan sampai patah semangat. Problem is always a problem if you see as a problem, but if you can solve the problem you can finish that problem,” tambahnya mengingatkan.

Kepiawaian Anderson dalam mengelola dan mengembangkan Majestyk ini diakui ahli kewirausahaan Cahyo Pramono. Menurut Cahyo, karakter kewirausahaan Anderson adalah karakter berpola umum yang terjadi di Indonesia dalam tiga dasawarsa terakhir. “Ciri-cirinya, pertama, ada kenekatan karena faktor desakan, baik keluarga, ekonomi atau alasan lain. Kedua, mengandalkan kekuatan mental yang tinggi karena hampir tidak mendapat dukungan dari pihak luar. Ketiga, mewarisi gaya tertentu dari pendahulunya minimal pemahaman bahwa uang tidak datang begitu saja. Keempat, mulai mengenal inovasi. Dan kelima, mulai mencoba manajemen Barat walau kadang hanya kulitnya,” papar Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara itu.

Cahyo menambahkan, era Anderson adalah era peralihan yang cukup berat dalam hal SDM. Pada pertengahan era tersebut muncul tantangan, jika ingin berkembang menjadi lebih banyak atau lebih besar, harus melibatkan banyak orang dan belajar memercayai orang. Karena itu, delegasi menjadi suatu keharusan. Di sinilah terjadi perubahan gaya, tidak lagi gaya one man show yang dulu menjadi budaya tunggal dalam alam bisnis di Medan umumnya.

Penilaian senada dikemukakan Sumarni, Kepala Pemasaran Majestyk. Menurut wanita yang bergabung dengan Majestyk sejak 1987 ini, bosnya merupakan orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi. “Pak Anderson selalu penuh keyakinan dalam mengerjakan sesuatu. Di samping itu, dia juga mempunyai semangat yang tinggi dalam mewujudkan keinginannya,” kata Sumarni memuji. ”Selain tekun dalam bekerja, Pak Anderson juga orang yang loyal dan mempunyai rasa sosial tinggi, baik terhadap karyawan maupun pelanggannya,” tambahnya.

Reportase: Yurivito Kris Nugroho & Julfini (Medan)/Riset: Rifky

Read more...

Jagonya Puzzle Kayu dari Surabaya

Monday, August 23, 2010

Bermula dari usaha mesin jahit, kini bisnis keluarga Riangsaputra dikenal sebagai produsen mainan puzzle kayu yang diekspor ke Asia, Eropa dan Amerika. Inilah pergulatan bisnis yang dilakukan dua generasi itu.

Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Ungkapan itu diyakini keluarga Hono Sentosa Riangsaputra yang kini telah membuktikan kebenarannya. Awalnya, Hono dikenal sebagai pembuat mesin jahit dan mejanya, yang terpuruk akibat ditipu mitra bisnis dan kios terbakar. Sekarang dia adalah pengusaha mainan anak jenis wooden jigsaw puzzle untuk pasar domestik dan ekspor. Produknya berhasil menembus pasar Malaysia, Jepang, Jerman, Inggris, Hungaria, Austria dan Amerika Serikat.

Hebatnya, bisnis puzzle kayu merek Wintoys yang dirintis Hono 22 tahun silam tersebut kian maju setelah ditangani generasi kedua, Winata Riangsaputra, hingga sekarang. Pabriknya ada dua di Surabaya (daerah Kedung Cowek dan Kalilom), sedangkan tokonya ada empat di kota yang sama (Plaza Tunjungan dan Plasa Surabaya).

Kesuksesan yang dicapai pria berumur 65 tahun itu tidak serba kebetulan. Dia membesut usahanya dengan susah payah. Puluhan tahun lalu Hono mengawali usaha dengan pembuatan mesin jahit dan dilanjutkan produksi meja mesin jahit juga. Nah, di tengah ketekunannya berusaha itu, diam-diam ada seorang pengusaha asal Taiwan, sebut saja Mr. X, yang memperhatikan sepak terjang usaha Hono yang banyak menggunakan bahan baku plywood itu.

Akhirnya, Mr. X mengajak Hono bekerja sama. Gayung pun bersambut, sehingga mereka mendirikan PT Gunung Mas (GM) tahun 1988. Proyek perdana GM adalah pembuatan 40 ribu unit bat pingpong. Untuk melengkapi bat itu, GM pun mengimpor bola pingpong dari Taiwan. Selanjutnya bat dan bola pingpong diekspor ke AS.

Setelah bat pingpong, GM merambah bisnis mainan anak jenis wooden jigsaw puzzle. Mengapa? Pertimbangannya, Winata menuturkan, kala itu mainan puzzle kayu sangat disukai orang tua di luar negeri dan Pemerintah Indonesia kala itu sedang giat-giatnya mendukung pengusaha nasional yang berorientasi ekspor, sebaliknya usaha mesin jahit sedang lesu darah. Lalu, Hono merogoh kocek Rp 80 juta untuk mendukung bisnis puzzle kayu. Celakanya, pada tahun ke-3 mitra bisnis dari Taiwan itu berbuat curang, sehingga Hono dililit kesulitan keuangan. Untunglah, waktu itu Bank BRI bersedia mengucurkan kredit usahanya.

Setelah mendapat bantuan modal dari Bank BRI, Hono mulai mengembangkan usaha pembuatan mesin jahit lagi. Namun apes, sebelum usaha pembuatan mesin jahit berjalan, kios Hono di Pasar Turi, Surabaya, terbakar.

Waktu pun berlalu dan Hono kembali sibuk mengelola GM. Tak dinyana dia kembali kedatangan tamu asing dari Taiwan. “Ternyata tamu itu adalah rekan kerja Mr. X yang dulu curang sama Pak Hono. Tamu baru ini juga diakalin oleh Mr X,” kata Winata menjelaskan sejarah awal berdirinya Wintoys. Akhirnya, Hono dan mitra baru dari Taiwan ini sepakat memulai bisnis yang berlanjut sampai saat ini.

Dengan mitra barunya, perjalanan bisnis GM lebih mulus. Untuk mendapatkan pembeli, GM rajin mengikuti pameran mainan anak di Hong Kong dan sejumlah negara Eropa. Partisipasi GM dalam ekshibisi di luar negeri tersebut karena diajak oleh Departemen Perindustrian atau ada sponsor yang bersedia mendanai.

Aktifnya GM untuk memasarkan produk ke mancanegara berbuah manis. Secara bertahap jumlah negara yang melirik produk GM terus bertambah. Mulai dari negara-negara di Asia dan Eropa, hingga AS terpincut dengan puzzle kayu buatannya. Namun, untuk menggarap pasar eskpor ini, GM ibarat tukang jahit karena tidak menggunakan merek Wintoys. “Untuk pasar ekspor Malaysia saja kami memakai merek Wintoys. Sementara order dari negera-negara lain disesuaikan dengan pesanan buyer,” imbuh Winata yang lahir tahun 1981 ini.

Ketika bisnis GM berkembang, Winata tidak tega membiarkan ayahnya berjuang sendiri. Dia tertantang untuk bergabung ke bisnis orang tuanya pada 2004, padahal kala itu dia sudah menjadi asisten dosen di almamaternya, Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Kristen Petra, Surabaya.

Tahun 2005 Winata menggagas berdirinya PT Win Investama (WI). Tujuannya, serius menggarap pasar mainan puzzle kayu di dalam negeri. Dengan modal Rp 150 juta, dia berbagi saham dan peran dengan dua kakak iparnya (Gunawan Kaman dan Welly Willianto) untuk mengembangkan WI. “Ternyata memasarkan produk puzzle kayu di dalam negeri susah. Begitu kami masuk ke pintu baby shop, langsung ditolak,” ujar Komisaris WI itu dengan pilu. Penolakan toko mainan maupun perlengkapan bayi itu dipicu sikap masyarakat yang branded minded dan import minded, sehingga kurang mencintai produk dalam negeri.

Untunglah, Winata dan kakaknya tidak putus asa. Mereka justru tertantang untuk menaklukkan pasar domestik. Kemudian, mereka bergerilya mendekati sejumlah kelompok bermain, rajin mengikuti pameran yang terkait mainan dan anak-anak di dalam negeri, serta membuat situs online www.win-toys.com”Kami pernah gagal memasarkan produk Wintoys di kantor-kantor lantaran kami tidak pernah melakukan survei seberapa banyak karyawan di sebuah perusahaan yang memiliki buah hati,” kata ayah Dominika Jopiel (dua tahun) ini. Untuk mendapatkan kepercayaan para kepala sekolah, Winata meyakinkan mereka tentang jaminan kualitas produk. Dia mengklaim, cat puzzle kayu Wintoys sulit mengelupas, sehingga tidak berbahaya bagi anak-anak.

Selain itu, WI kreatif menelurkan desain baru. Setidaknya tiap bulan diluncurkan 3-4 model baru puzzle kayu Wintoys. Guna mendapatkan ide-ide segar dalam kreativitas pembuatan produk, Winata dan kakak-kakaknya rajin mengikuti pameran terkait mainan di dalam dan luar negeri serta mengamati mainan yang dimiliki anak mereka. Dia kerap memperhatikan anaknya ketika membuka kardus mainan sampai menggunakannya untuk alat bermain.

Produk Wintoys cukup inovatif. Lihat saja, selain puzzle, juga ada balok kayu, permainan wahana seperti papan sepak bola, sliding car, dan puzzle construction dengan bentuk dan warna menarik. Produk inovatifnya ini membuat beberapa pusat perbelanjaan besar di Indonesia tertarik menjualnya. Winata mengaku tidak menjual langsung ke mereka. Ada reseller yang melakukannya.

Meski telah bermitra dengan reseller, menurut Sumardy, seharusnya Winata tidak bisa mengandalkan begitu saja kerja mereka. “Reseller itu sering hanya bersifat sebagai penjual dan tidak bertanggung jawab terhadap pemasaran produk yang dijual. Sedangkan sebagai pemasar, Wintoys tidak bisa hanya menaruh barang di dalam toko, tapi juga harus memperhatikan sejauh mana pembeli mengakses barang Wintoys,” kata pengamat entrepreneurship dari Octovate itu menyarankan.

Belakangan, bisnis WI mulai menunjukkan hasil. Apalagi, ketika tiga tahun terakhir pemerintah sedang gencar menerapkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Di dalam PAUD mainan Wintoys dapat dikategorikan sebagai alat peraga edukasi, sehingga lebih mudah dipromosikan ke sekolah dan orang tua.

Tak mau ketinggalan dengan GM yang lebih dulu maju, WI pun mendirikan pabrik sendiri. Selama ini GM memiliki pabrik di Kedung Cowek, Surabaya, seluas 1.000 m2 dengan kapasitas produksi ekspor 15 ribu unit puzzle kayu per bulan. Sementara itu, pabrik WI di Kalilom, Surabaya, seluas 800 m2 dan berkapasitas 500 unit puzzle kayu tiap bulan untuk memenuhi pasar dalam negeri. Untuk bahan baku kedua pabrik tersebut, Wintoys mengandalkan pemasok dari Surabaya dan sekitarnya.

Harga produk Wintoys bervariasi. Untuk pasar ekspor non-Eropa, satu unit puzzle kayu Wintoys dibanderol US$ 12 dan pasar Eropa sekitar belasan Euro. Adapun harga produk serupa untuk pasar domestik dipatok Rp 30-40 ribu per unit.

Dengan kisaran harga dan gambaran volume produksi tersebut, kalau dipukul rata, omset Wintoys adalah Rp 150 juta/tahun untuk pasar dalam negeri yang dipasarkan WI dan sekitar Rp 1,6 miliar/tahun untuk pasar ekspor melalui bendera GM.

Diakui Winata, omset Wintoys sempat naik turun. Penurunan penjualan disebabkan oleh serbuan produk Cina di pasar dunia ataupun Indonesia. Menurutnya, konsumen produk puzzle kayu adalah pembeli yang melek akan merek mainan anak dan rentan soal harga. Alhasil, kompetisi harga menjadi area biru berebut pasar. “Saya dengar dari kawan-kawan soal kebijakan tax refund untuk perusahan eksportir di Cina yang membuat harga mereka begitu murah. Apalagi, hal itu didukung oleh etos kerja karyawan cukup bagus, infrastruktur serta penyedian bahan baku yang memadai, sehingga biaya produksi cukup efisien,” ujarnya merasa prihatin. Ketiadaan pengurangan, bahkan pengembalian pajak oleh negara di Indonesia, membuat Wintoys tidak bisa bersaing harga dengan produk Cina. Apalagi, keterbatasan bahan baku membuat pemain industri mainan kayu dapat dihitung dengan jari. Akibatnya, sedikit pula orang yang menjadi pemasok industri mainan kayu.

Dampak gempuran produk-produk Cina yang dirasakan Wintoys adalah memangkas omset hingga 50%. Ujung-ujungnya, jumlah karyawan WI dan GM pun terpaksa dirampingkan. Sebagai gambaran, pada 1990-95 total pegawai GM sebanyak 300 orang diciutkan menjadi 60 orang pada 2002. Sementara jumlah karyawan WI bertahan 15 orang hingga sekarang.

Satu-satunya jalan agar dapat bersaing dengan produk Cina, Wintoys konsisten meningkatkan mutu. “Kami mempunyai target market tersendiri, yaitu orang tua yang peduli kepada balitanya. Jadi, untuk bersaing dengan produk Cina di domestik, kami masih unggul,” kata Winata optimistis.

Apalagi, Winata bercerita, ketika produk Cina ditimpa isu panas soal kandungan melamin yang berbahaya, tren penjualan produk Wintoys naik dan berangsur pulih. “Banyak buyer dari Jepang yang biasanya membeli dari Cina akhirnya pindah ke produk Wintoys,” ungkapnya senang sembari mengklaim produk puzzle Wintoys lebih halus dan bebas racun bagi anak-anak sehingga disukai pembeli dari Negeri Sakura.

Dengan produk berkulitas, Wintoys lebih percaya diri melenggang di pasar. Hal ini dibenarkan sejumlah agen penjualannya. Contohnya, Andrew Kris Susanto (29 tahun), yang sebelumnya adalah penjual mainan anak merek lain, tetapi kemudian beralih ke Wintoys. ”Saya akui Wintoys lebih halus dan berkualitas produknya. Walaupun harganya lebih mahal dari produk lokal,” ucap pemilik situs mainan www.puzzleku.com itu. Dalam sebulan, lulusan Teknologi Informatika Universitas Bina Nusantara, Jakarta, ini mampu menjual 30-60 unit produk Wintoys.

Ke depan, selain meningkatkan pasar ekspor, Wintoys juga akan kembali agresif menggarap pasar domestik. “Tahun ini kami akan buka satu gerai Wintoys di Royal Plaza, Surabaya,” ujar suami Maria Rosaline itu menambahkan.

Agar bisnis Wintoys di Indonesia lebih maju, Sumardy menyarankan supaya WI lebih inovatif dalam mencari jalur pemasaran yang baru. Bisa saja dengan melakukan co-branding bersama merek lain yang lintasindustri dan terkenal. Nanti, lanjut Sumardy, lama-kelamaan merek Wintoys juga akan terangkat. Contohnya, pameran bersama produk susu, fashion anak dan rumah sakit, ataupun terlibat dalam acara-acara yang lekat citranya dengan kehadiran ibu dan anak.

Reportase: Rias Andriati

Read more...

Sukses Sang Penari di Bisnis Kerajinan Perak Dunia

Thursday, July 29, 2010

Jiwa seni yang mengalir deras dalam tubuhnya mengantarkan Nyoman Suarti menjadi desainer perak kelas dunia. Ketika dunia bisnis berada dalam genggamannya, ia justru memutuskan pulang ke tanah kelahirannya, Bali. Bagaimana lika-likunya menembus pasar mancanegara?

Gelung Arjuna dalam ajang New York Fashion Show itu membetot ratusan penikmat seni kerajinan perak. Memadukan gaya kontemporer dengan sentuhan klasik Bali, produk dengan kerang atau bebatuan indah seperti mutiara dibalut ornamen ukiran khas Bali itu mengantarkan sang desainer, Desak Nyoman Suarti, berkibar di jagat sosialita New York.

Sejak momen yang berlangsung tahun 1980 itu, sosok energik, lincah, ramah dan cekatan itu, mendapat julukan Suarti Perak Bali. Namanya makin berkibar ketika ia mendirikan galeri kerajinan perak Balinesia Inc. di jantung kota New York, 1986. Setelah itu, kiprah Suarti sebagai desainer perhiasan perak melanglang sampai ke London, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya. Pesanan dari selebritas dunia pun membanjir. Produk Suarti muncul di Value Vision, jaringan televisi belanja di Amerika Serikat. Majalah Vogue Alture pun mengulas rancangan kelahiran Ubud, Bali 25 Mei 1958 ini.

Mengundang decak kagum banyak kalangan, namanya pun menjadi merek desainer kerajinan perak kelas atas. Kini, sudah ribuan desain yang dihasilkan ibu tiga anak dan nenek dua cucu ini. Toh, hujan emas di negeri orang itu justru menggelitik Suarti untuk pulang ke tanah kelahirannya pada 1990. Bersama sang suami, Peter Luce, ia pulang ke Bali dan mendirikan PT Suarti. Padahal, bisnis perak Suarti tengah berkibar di mancanegara seiring kiprahnya membeli perusahaan perak Kanada, Bali Inc.

Suarti tentu punya alasan. Kepulangannya ke Bali ternyata untuk memperbesar produksi. Suarti tak tanggung-tanggung merogoh koceknya hingga Rp 5 miliar buat mendatangkan mesin-mesin produksi agar para tukang peraknya menyelesaikan order tepat waktu. “Waktu penyelesaian menjadi kendala terbesar dalam menyelesaikan pesanan,” ungkapnya. Mesin-mesin ini diharapkan Suarti bisa meringankan kerja para tukangnya tanpa meninggalkan pekerjaan manual yang menjadi syarat sebuah hasil kerajinan tangan.

Sementara pemasaran, Suarti sejak awal memfokuskan diri menggarap pasar ekspor saja dengan meneruskan pasar yang telah dibinanya saat masih di AS. Hampir 90% karyanya diekspor ke AS, Australia, Eropa dan negara-negara Asia. Suarti hanya bekerja sama dengan mitra-mitra bisnisnya secara wholesale. “Kebijakan harga ritel produk saya serahkan sepenuhnya pada mitra bisnis,” ujarnya. Dengan sistem ini membuatnya bisa lebih fokus mendesain dan berproduksi saja. “Saya tidak mau direpotkan dengan permintaan perorangan,” tambahnya. Walaupun diakui bila menjual ritel tentu keuntungan yang berhasil diraup akan jauh lebih besar.

Untuk membantu merealisasi ide-idenya, ia membentuk Suarti Design Centre, yang saat ini menaungi tiga desainer yang siap merealisasikan idenya. “Saya tetap memberikan makna dan jiwa pada setiap produk yang digarap tim,” ujar Suarti sambil memperlihatkan hasil desainnya. “Tanggung jawab desain dan memberikan jiwa pada setiap produk Suarti tetap di tangan saya,” imbuh Suarti menggambarkan posisinya sekarang. Dia mengaku tidak akan pernah kehabisan ide mengingat begitu beragamnya budaya Indonesia yang bisa diadaptasi. “Desain saya dipengaruhi gerak tari Bali,” katanya.

Suarti memang teguh mengeluarkan rancangan bergaya tradisional yang mempunyai kesan unik untuk tetap bersaing di pasar internasional. “Saya tetap berkomitmen untuk tampil melestarikan kehebatan budaya,” tutur Suarti di teras belakang rumahnya yang bergaya tropis, menghadap langsung ke laut lepas di Desa Ketewel, Gianyar, Bali.

Dengan 120 karyawan yang bekerja di kantornya yang letaknya berhadapan dengan rumah tinggalnya, dan tidak kurang dari 350 tukang yang bekerja di rumah masing-masing, Suarti merasa agak kewalahan memenuhi order yang harus diselesaikan untuk bulan Mei-Juli, yang menghabiskan bahan baku hingga mencapai tidak kurang dari satu ton perak yang dikombinasikan dengan berbagai bebatuan. Selain memenuhi pesanan mitra bisnis wholesale-nya, secara rutin setiap dua bulan Suarti juga tampil di home shopping network AS dan Inggris dengan air time empat jam untuk memperkenalkan desain terbarunya berupa satu tema terpadu mulai dari cincin, gelang, kalung, anting hingga bros yang rata-rata dihargai US$ 100 untuk cincin, sedangkan kalung US$ 350.

Dari tampilnya di TV itu, Suarti mengaku meraih Rp 1-2 miliar per bulan dengan margin keuntungan rata-rata 30%. Pemasaran produk Suarti memang masih ditangani sendiri. Selain rutin tampil di QVC dan Value Vision, ia juga mengikuti pameran di luar negeri untuk mencari mitra bisnis wholesale, sebagai upayanya memperbesar pasar. “Aktif jemput bola. Go and get it. Ayo desainer Indonesia, you can do it,” ujarnya bersemangat.

Kerja keras dan bertanggung jawab dijadikan dasar pijakan Suarti untuk terus berkembang di pasar internasional. Tak heran ia begitu bersemangat melakukan perjalanan karena baginya tiga showroom yang ia miliki di Bali hanya dipakai untuk memajang contoh produknya dan sisa hasil ekspor (bila ada), bukan untuk menjaring pembeli eceran. Dengan alasan yang sama, ia memilih tidak mempunyai toko sendiri di luar negeri, melainkan hanya mitra bisnis yang diberi kebebasan menjual secara ritel, tersebar di AS, Inggris, Jerman, Australia dan Jepang, yang rata-rata mampu memberi pemasukan hingga Rp 29 miliar ke pundi-pundi Suarti setiap tahun.

Karakteristik pembeli di negara maju, menurut Suarti, sangat gampang ditangkap. “Asal bisa jujur, mempunyai komitmen dan bertanggung jawab terhadap produk yang dihasilkan,” katanya. Setelah hampir 20 tahun, ia berhasil membesarkan PT Suarti tidak hanya memproduksi aksesori berbahan baku perak. Saat ini tidak kurang dari 9 anak perusahaan bernaung di bawah PT Suarti seperti Suarti Ritual of Fire (fashion jewelry), Suarti Homeware, Suarti Gold, Visnu (pengembangan dan kreasi), Luh Luwih (Sanggar Seni Wanita Bali), Maestro Resto Sanur, Maestro Bistro Celuk, dan Swamitra Visnu (koperasi).

Kejelian mengendus peluang bisnis dipadu dengan kekuatan “jiwa” dalam setiap produk yang dihasilkan adalah kunci keberhasilan Suarti mengekspor aksesori perak ke mancanegara dengan omset puluhan miliar rupiah. Padahal, latar belakangnya bukanlah keluarga wirausaha. Ia justru lahir dari keluarga seniman. Kakek dan neneknya, Dewa Limbak dan Jero Nesa, dikenal sebagai pionir penari Legong Keraton. Sang ibu, Jero Gambir, terkenal sebagai penari Arja yang juga menempa Suarti menjadi penari andal. Sementara sang ayah, Dewa Putu Sugi, berprofesi sebagai pelukis. Alhasil, pada usia 10 tahun (1968), Suarti sudah menyabet juara satu Lomba Tari Taruna Jaya dalam Festival Gong Kebyar se-Bali.

Mengikuti jejak ayahnya, Suarti juga piawai melukis. “Saya merasa seolah-olah berada di surga saat mulai membuat goresan di atas kanvas,” tutur sulung dari tiga bersaudara ini. Perasaan itu, menurutnya, karena sebelumnya ia hanya bisa mencoret-coret tanah karena kemiskinan orang tuanya. Lukisan perdananya ini ternyata mengundang kekaguman seorang editor terkenal dari New York, Mr. Levine. Tidak hanya tertarik pada lukisannya, Levine juga mengupah Suarti kecil bersama grup tarinya untuk menari. Di kemudian hari Levine banyak membeli dan menjadi penggemar fanatik lukisan Suarti.

Perjalanan Suarti sebagai pengusaha sejatinya dimulai dari kepiawaiannya menari. Diawali dengan petualangan pertama ke luar negeri pada 1972 saat diajak bergabung oleh Anak Agung Gede Mandra, penari dan pemilik grup tari asal Peliatan, Ubud – yang sangat terkenal saat itu – menjadi Duta Kebudayaan Indonesia untuk ikut menari di Australia. Sejak saat itu, perjalanan Suarti melanglang buana seolah tak terbendung. Apalagi setelah ia diperistri Charles Levins, warganegara AS pada 1973, yang kemudian mengajaknya menetap di Singapura. Pemerintah Singapura kemudian memintanya menjadi pengajar tari Bali yang dilakoni Suarti sambil belajar fashion. Ia sempat menimba ilmu di Prett School of Design dan New York School of Design.

Seiring perceraiannya setelah 7 tahun menikah, Suarti memutuskan hijrah ke AS. Ia mulai berkiprah di New York Asia Society dan memantapkan diri untuk hidup di dunia seni dengan mengajar tari di seluruh universitas di AS. Ia kemudian menemukan jodohnya, Peter Luce, tahun 1983. Setelah menikah yang kedua kalinya, Suarti mulai menekuni dunia fashion dengan fokus mendesain dan membuat kerajinan berbahan baku perak. Bermula dari produksi kecil-kecilan dengan jumlah terbatas dan hanya dipasarkan di kampus tempatnya mengajar tari, bisnis kerajinan peraknya ternyata berkembang pesat di luar perkiraannya.

Namanya berkibar setelah ia mendirikan galeri kerajinan perak Balinesia Inc. di New York, 1986. Ia mengaku modalnya didapat dari hasil “proyek” Presiden Jimmy Carter, yang mengenalnya sebagai duta seni Indonesia. Ia juga sempat mengamen di restoran-restoran untuk menambah modal demi membesarkan usahanya. Suatu hari, seorang pengusaha terkenal yang juga pemilik gerai perhiasan terkenal di Fifth Avenue New York, Henry Bundle, tertarik mengajak Suarti bergabung menjadi model di toko milik Bundle yang menjual perhiasan dari para desainer terkenal di seluruh dunia.

Kiprah bisnis Suarti makin menjadi saat dirinya dipercaya memiliki gerai sendiri untuk memajang karya-karyanya dengan label Suarti Collection, yang mengantarkannya menjadi desainer perak kelas dunia. “Aksesori saya mampu berbicara sendiri,” ungkap Suarti tanpa bermaksud menyombongkan diri. Artinya, “Desain saya mengandung filosofi dan bermakna sehingga mempunyai ‘jiwa’,” tambah peraih Kartini Award 2007 ini.

Memiliki “jiwa”, kelebihan itu yang menurut Suarti menjadikannya bisa menyejajarkan diri dengan para desainer aksesori dunia lainnya yang secara teknis diakuinya jauh di atas kemampuan dia. “Secara teknis kami kalah jauh,” ia mengakui. “Jiwa” yang berhasil ditampilkan pada setiap desainnya, lanjut Suarti, lebih disebabkan kedekatannya dengan budaya Bali dan darah seni yang mengalir deras di tubuhnya sehingga ia lebih mudah berekspresi untuk menciptakan suatu desain.

Talenta dan kejelian mengendus peluang bisnis meluaskan garapan Suarti ke home accessories peranti makan dan perabot rumah tangga, seperti sendok garpu dan hiasan dinding. Juga makin menyebar ke pasar internasional seiring strategi pemasaran yang dikembangkannya lewat dunia maya. Tak pelak, ragam produk Suarti hadir di sejumlah situs belanja dunia.

Keberhasilan bisnis tak membuat Suarti melupakan akar seni tari. Di balik tubuh rampingnya, pemilik beberapa tato di tubuhnya ini aktif memimpin Forum Peduli Budaya Bali yang didedikasikan untuk melestarikan budaya Bali. Sebagai orang yang telah cukup lama berkecimpung di bisnis yang menjual seni, Suarti mengaku paham benar kalau telah terjadi kegiatan ilegal mematenkan motif tradisional. Sehingga untuk bisa memakai motif tertentu, perajin harus membayar sebesar nilai tertentu kepada pihak yang mempunyai hak paten. Ancaman hukuman dan penolakan dari negara pengimpor hasil kerajinan menurut Suarti cukup meresahkan para perajin. “Saya tetap pasang badan di barisan terdepan untuk menjaga warisan budaya leluhur kita. Jangan sampai di kemudian hari kita harus membayar pada pihak asing untuk bisa menggunakan budaya kita,” tutur Suarti.

Kepedulian Suarti untuk bisa maju bersama-sama ditunjukkannya dengan membuka lebar pintu komunikasi bagi yang tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang seluk-beluk bisnisnya mulai dari produksi hingga bagaimana bisa menembus pasar luar negeri. Maka, ia berencana mendirikan sekolah desain plus di mana selain mengajarkan tentang seluk-beluk desain, juga manajemen pemasaran. Tidak hanya itu, di tengah aktivitasnya mendesain dan melakukan perjalanan bisnis, Suarti tidak pernah melupakan obsesinya mendirikan Museum Perak. ”Sebagai bentuk kecintaan saya pada dunia seni, khususnya kerajinan perak,” ungkapnya.

Keterbukaan Suarti dirasakan benar oleh para karyawannya. Suarti yang akrab dipanggil Mami oleh karyawannya ini tak canggung mendidik langsung bila ada karyawan yang baru bergabung. Hal ini dirasakan oleh salah seorang karyawannya, Dewi, yang langsung bergabung begitu lulus SMK Pariwisata, tiga tahun lalu. “Mami baik dan penuh pengertian,” kata Dewi. Menurutnya, Suarti tak pelit berbagi ilmu dengan para pegawainya. Dari Suarti-lah, Dewi yang tidak punya latar belakang pengetahuan tentang perak, sekarang tahu banyak tentang produksi hingga pemasarannya. “Mami tidak menjaga jarak dengan anak buahnya, ” tambah Dewi.

Reportase: Silawati; Riset: Rachmanto Aris Daryoko

Read more...

Pindah Kuadran Membawa Nikmat

Thursday, July 15, 2010

Krisis moneter memaksa Tony Nugroho meninggalkan karier cemerlang, gaji besar dan fasilitas memuaskan. Memulai usaha kecil-kecilan dengan membuka toko kue, kini bidang properti pun dirambahnya.

21 Maret 2010, sebuah kado ulang tahun dihadiahkan Tony Nugroho bagi dirinya sendiri: Tony’s Skatepark. Tempat bagi komunitas skateboarders yang memadukan olah raga, entertainment dan gaya hidup di Jalan Raya Kerobokan, Banjar Semer, Kuta, Bali, ini resmi dibuka pada tanggal itu, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-41. “Buat kado untuk diri saya sendiri,” ungkap Tony, penggagas dan pemilik Tony’s Skatepark.

Di atas lahan seluas 2.000 m2 dengan kapasitas parkir 80 mobil itu, para skateboarder tak hanya bisa unjuk kebolehan ber-skateboard, tetapi sekaligus bisa memanjakan lidah dan penampilan dengan 12 toko (antara lain fashion) dan resto yang tersedia di areal Tony’s Skatepark. “Ini konsep pertama kali di Bali,” ujar Tony. Menurutnya, tempat bermain atau skatepark-nya sendiri bukan bisnis yang menjadi sasaran utamanya. “Boleh dibilang, skatepark-nya sosial karena tarifnya paling sekitar Rp 20 ribu,” katanya. Clothing dan resto yang justru yang ditargetkan meraup pundi-pundi uang.

Dua toko akan dipakai Tony sendiri untuk menawarkan beragam clothing dengan desain dan kualitas yang tak kalah dari merek-merek dari luar negeri. “Saya membuat clothing dengan kualitas kelas satu, sama dengan merek-merek luar negeri, tetapi dengan harga seperempatnya,” imbuhnya. Ia menambahkan, T-shirt yang dibuatnya mengusung lokal heroik, artinya menunjukkan bahwa T-shirt ini asli buatan lokal tetapi didesain seperti buatan merek luar. “Ini waktunya kita melakukan upaya untuk tidak dijajah merek-merek luar, kita harus tunjukkan kita juga bisa,” papar Tony bersemangat. Selama ini, tambahnya, clothing buatan lokal kerap menyamarkan identitas dengan buatan Paris, New York, dan kota fashion dunia lainnya.

Toko yang dibangun Tony seluas 350 m2 itu juga menyediakan papan skateboard, peralatan berselancar, dan aneka barang unik. “Nantinya, toko ini yang saya harapkan akan tumbuh karena market-nya seluruh dunia. Bali adalah jendela Indonesia untuk memamerkan karya ke seluruh dunia,” katanya. Clothing buatan Tony hanya ada di Bali. “Orang harus ke Bali untuk bisa mendapatkannya, ini memang dibuat eksklusif supaya orang datang ke Bali dan ada sesuatu yang bisa dibanggakan.”

Tony’s Skatepark adalah impian Tony lima tahun lalu. Ia memang penikmat Bali. Rumahnya yang asri di kawasan Mega Kebon Jeruk sangat kental suasana Bali. “Saya suka Bali,” ujarnya. Interaksi dengan para ekspatriat di Bali rupanya tak sekadar membuat jaringan pertemanannya meluas. Ia juga mencium peluang bisnis. “Mereka bermain skateboard, mereka punya komunitas besar tapi tidak punya tempat bermain yang memadai. Saya lihat ini sebagai kesempatan bisnis,” ujarnya lagi. Ia lantas mencari tempat yang strategis karena dalam benaknya tempat yang akan ia kembangkan bukan semata arena bermain skateboard. Setelah menemukan lokasi, ia pun menggodok konsep dan desainnya dengan matang. Investasi sebesar Rp 15 miliar dari koceknya sendiri ia gelontorkan untuk mewujudkan Tony’s Skatepark.

Saya optimistis bisnis ini bisa berjalan bagus,” tutur penggemar motor gede ini. Apalagi, menurutnya, konsep dan perencanaannya sudah digodok secara matang. “Saya kalau melahirkan ide-ide harus diolah dulu sekian lama. Dan, karakter positif harus dimiliki seorang pengusaha kalau mau sukses,” katanya. Bagi Tony, berani, percaya diri, ulet, pantang menyerah, konsisten dan jujur adalah karakter yang harus dimiliki seseorang untuk meraih keberhasilan. “Tidak ada yang instan. Sembilan puluh persen dari kesuksesan harus diperjuangkan sekian puluh kali,” tambahnya.

Untuk sampai pada titik seperti sekarang, banyak sandungan dan kendala yang menghadangnya “Saya sampai menjual mobil dan barang berharga lainnya, bahkan rumah disita,” ungkapnya. Satu dasawarsa sudah Tony menapaki lakon sebagai pengusaha, dan tak selalu mulus jalan yang dilaluinya. Mulai dari persoalan sumber daya manusia sampai kehilangan mitra bisnis. “Semua sandungan saya jadikan pengalaman berharga sebagai proses belajar,” ucapnya. Apalagi, ia memulai bisnis dari nol, bahkan boleh dibilang dengan modal nekat.

Sebelum menerjuni bisnis, Tony adalah seorang profesional. Ia manajer senior di PT Pentasena Arta Sentosa. Karier profesionalnya dimulai usai ia lulus kuliah di jurusan Ekonomi Manajemen Universitas Tarumanagara pada 1992. Ia sempat bekerja di perusahaan asuransi dan perusahaan multi level marketing. “Tapi tidak lama karena, selain sulit, penghasilannya juga tidak menentu,” katanya. Masih di tahun yang sama, ia bergabung dengan Pentasena dan memulai karier sebagai management trainee. Setahun kemudian, ia dipromosikan sebagai broker. Seiring dengan perjalanan waktu, ia kemudian sampai pada posisi manajer senior di perusahaan milik Titiek Soeharto itu. “Waktu itu saya sudah mapan. Gaji besar dengan fasilitas terbaik,” ucapnya.

Tahun 1998, seiring dengan lengsernya Presiden Soeharto, perusahaan milik anak Soeharto ini pun gonjang-ganjing. Dalam kurun dua tahun, sejak Soeharto turun dari tampuk kekuasaan sampai tahun 2000, tak ada pekerjaan berarti yang dilakukannya di perusahaan. “Kehidupan saya secara finansial sudah mapan tapi pusing juga karena praktis selama dua tahun tidak banyak yang bisa dikerjakan selain main golf dan meng-entertain orang,” katanya mengenang. Ia melihat ketika itu perusahaan sebenarnya sudah limbung. Akhirnya, tahun 2000 ia memutuskan keluar dari Pentasena. Kondisi tersebut diperparah karena ia memiliki KPR dalam bentuk dolar sehingga utangnya yang semula Rp 400 juta membengkak menjadi Rp 3 miliar dengan kenaikan dolar yang waktu krisis ekonomi melambung sampai Rp 15 ribu/US$. Setelah negosiasi dengan pihak bank, akhirnya rumahnya disita. Tony pun kemudian menjual mobil dan motor gedenya yang kemudian ia belikan tanah di Mega Kebon Jeruk yang kini menjadi tempat tinggalnya

Awalnya, ia berniat bekerja di perusahaan lain. Akan tetapi, ia hanya dijanjikan mendapat gaji setengah dari yang ia terima di Pentasena. “Akhirnya, saya memutuskan bisnis kecil-kecilan,” katanya. Atas dorongan sang ibu yang memang sudah lama menekuni bisnis kue di Semarang, ia pun merintis bisnis kue/cake. “Saya mengikuti saran ibu saya karena memang itu yang ada dan saya orangnya practical,” ucapnya. Saat SMA di Semarang, anak pertama dari empat bersaudara ini memang kerap membantu sang ibu membuat kue. “Saya diajari lagi oleh ibu membuat kue-kue,” tambahnya.

Memulai pergulatan baru, menurutnya, tidak mudah. Yang pasti, ia harus menurunkan gaya hidupnya dan banting gengsi. “Life style saya di-grounded karena harus menyesuaikan dengan kehidupan baru,” tuturnya. Dulu, dengan gaji besar dan fasilitas yang memuaskan, ia bisa membeli mobil bagus — Mercy, Volvo dan Land Rover, serta Harley-Davidson. Ia juga sering bepergian ke luar negeri dengan fasilitas terbaik dari perusahaan. “Ketika saya memulai usaha, kehidupannya njomplang banget, tapi ya sudah, saya jalani saja karena dulu saya juga tidak punya apa-apa, saya berasal dari keluarga yang pas-pasan kok,” tuturnya.

Selama hampir setahun, ia memulai bisnis kue dengan membuat semacam lapak di atrium World Trade Center, tempat ia dulu berkantor. Setiap pagi ia mendorong troli membawa kue dan masuk lift barang. “Para satpam di gedung itu heran melihat saya yang biasa pakai lift eksekutif,” katanya tertawa. Bukan hal mudah menjalani semua itu. Apalagi, tak semua teman dan koleganya bisa melihat secara positif pilihannya berwirausaha.

Tahun 2001 Dewi Fortuna menghampiri Tony. Ia ditawari membuka gerai kue di Pasaraya dengan sistem profit revenue. Itulah gerai pertama Toko Kue Victoria. “Ternyata income-nya bagus, perlahan kehidupan finansial saya membaik,” ungkapnya. Bisnis kue yang ia bangun pun terus berkembang. Tahun 2004, ia membuka Victoria di Automall, di SCBD. Di tempat yang sama ia juga kemudian membuka Resto Kudus. “Saya ingin mengembangkan makanan Indonesia,” katanya. Ia melihat waktu itu masakan Indonesia identik dengan kaki lima sehingga ia tergugah untuk mengembangkan resto dengan menu masakan khas asli Indonesia. “Waktu itu menunya hanya soto Kudus dan nasi pindang, Orang pertama kali masuk ke resto saya dikira soto Kudus yang di Blok M. Setelah tahu bukan, mereka langsung keluar, tapi tamu yang mau nyoba ternyata ketagihan,” katanya tertawa. Untuk memperkuat merek Resto Kudus, ia pun membuka gerai di Plaza Senayan.

Setelah Resto Kudus berjalan bagus, ia tergelitik membuka resto Jepang yang waktu itu belum semarak sekarang. Menggandeng pemilik Automall, ia pun membesut Torro, rumah makan Jepang yang diakuinya dibangun dengan konsep yang lebih cozy dengan harga terjangkau tapi kualitas terbaik. “Torro berjalan bagus juga,” katanya. Tahun-tahun berikutnya, ia kemudian ekspansi dengan penambahan gerai Victoria, Torro dan Resto Kudus di Gedung BRI 2 dan Menara Mulia. Namun, seiring dengan perkembangan bisnis kuliner yang pesat dengan kehadiran mal-mal, ia pun mulai memangkas gerai. Saat ini Victoria, Torro dan Resto Kudus hanya ada di BRI 2 dan Menara Mulia, serta Resto Kudus di Cikini. “Dua tahun ke depan, saya tidak akan ekspansi di bisnis resto, saya prediksi dua-tiga tahun ini akan banyak pemain di bisnis kuliner yang tumbang karena persaingannya sudah sangat ketat. Nah, setelah banyak pemain mati, baru deh saya ekspansi,” katanya seraya terbahak.

Saat ini, ia akan fokus mengembangkan Tony’s Skatepark dan mencari lokasi-lokasi terbaik di Bali. “Ada beberapa lokasi yang tepat di Bali, mau buat properti yang lain dari yang lain. Saya tidak bisa beritahu dulu, nanti bikin orang ngiri, ha-ha-ha,” katanya sembari tertawa berderai. Adapun di Jakarta, ia punya mimpi ingin membangun kawasan kuliner dan budaya dalam satu tempat yang menyajikan aneka masakan dari Sabang sampai Merauke. Tempat itu juga menyediakan panggung besar untuk menampilkan budaya dari berbagai daerah. “Saya sangat concern terhadap budaya Indonesia dan saya pikir kota metropolitan seperti Jakarta seharusnya memiliki satu tempat yang besar untuk menampilkan Indonesia dari sisi budaya, kuliner dan art,” tambah ayah Joshua Bernard (16 tahun) dan Majesta Kiara (9 tahun) ini.

Berani, tidak pernah ragu-ragu berpikir dan mengambil keputusan yang ekstrem, percaya diri, dan selalu melangkah jauh ke depan. Begitulah sosok Tony di mata sahabatnya, Virano. Menurutnya, salah satu sikap ekstrem Tony adalah keberaniannya meloncat dari bisnis kuliner ke bisnis properti. “Agak ekstrem, radikal, kadang tidak masuk di akal. Tapi jadinya akan membuka wawasan kita,” ujar Virano. Ia mengaku sudah lama mengenal Tony. “Ini saya sedang di Bali bersama Tony,” ujarnya ketika dihubungi SWA. Sekian lama bersahabat, dia menilai Tony adalah orang yang hangat. “Orangnya care banget, mungkin karena sahabat, ya, dia bisa jadi teman bertukar pikiran,” kata Virano.

Satu-satunya hal yang harus dimiliki ketika menghadapi Tony adalah kemampuan menerima pemikirannya yang ekstrem. “Kekurangannya itu. Kadang saya jadi kesulitan menebak langkahnya. Tapi pada saat yang sama, itu nanti akan jadi kelebihannya karena selalu melangkah jauh ke depan,” Virano memaparkan. Ia kemudian menceritakan sebuah pengalaman menarik bersama Tony saat berlibur di Bali. “Bulan lalu kami hampir tenggelam di laut. Kami terus berusaha mencapai pinggiran pantai. Akhirnya kami berhasil. Waktu sudah sampai di pinggir, Tony bilang ke saya, ‘Gue makin gak takut sama hidup, udah pernah mau mati kok‘,” kata Virano seraya melempar tawa.

Berani mencoba hal-hal baru. Begitu Shianny Winata yang bersama-sama Tony membuka restoran Jepang menilai sosok Tony. ”Ini kelihatan waktu saya ada ide untuk buka restoran Jepang. Partneran sama saya, dia langsung buka restoran Jepang. Tidak pakai mikir panjang-panjang. Padahal, itu bukan bidang yang dia kuasai. Dia tidak banyak tahu soal makanan Jepang. Saya juga tidak. Kita langsung nyemplung,” ungkap Shianny yang kini Head of HR & General Affair V-Kool Indo Lestari. Tony juga dipandang Shianny sebagai seorang yang kreatif. Tony selalu memiliki ide-ide baru yang menarik dibicarakan. ”Orangnya kreatif. Selalu ada yang baru. Makanya, saya tidak heran ketika dia buka Tony’s Skatepark. Nekatlah, tapi mungkin seperti itu yang bagus. Berani bermimpi, berani menjalaninya,” ujarnya. Ia menambahkan, ”Secara pribadi saya tidak terlalu mengenal Tony karena sebatas rekan bisnis. Tapi sebagai rekan bisnis, dia rekan bisnis yang asyik untuk berbisnis. Orangnya jujur. Fair business. Ya, kita tahu, yang terpenting dalam bisnis adalah kejujuran,” tambahnya.

Dalam pandangan Andrie Wongso, motivator entrepreneurship Action & Wisdom, Tony adalah seorang entrepreneur . Hal ini diungkapkannya melihat berbagai sepak terjang Tony seperti beralih ke industri properti dari kuliner, termasuk keberanian dan keberhasilannya membuka Toko Kue Victoria. “Dia itu seorang yang memiliki jiwa entrepreneur tulen,” ujarnya tandas. Menurut Andrie, ada beberapa kriteria sehingga seseorang bisa dikatakan memiliki jiwa entrepreneur, antara lain percaya diri, cepat mengambil keputusan, memiliki kemampuan menjual, menyukai tantangan dan hal-hal baru, bermental baja alias tahan banting, serta tidak cepat berpuas diri. “Itu akan membentuk jiwa entrepreneurship,” katanya.

Andrie menilai Tony sebagai seseorang yang berani bermimpi. Agar lebih berkembang, Andrie menyarankan Tony mencari “pendamping”. Pendamping yang dimaksud adalah manajemen yang baik. Manajemen harus bisa mengelola semua pencapaian Tony. Manajemen ini nanti akan mengimbangi hawa entrepreneurship Tony yang menggebu-gebu. “Kalau tidak,” ujarnya, “nanti keuangannya bisa jebol. Nah, di sini leadership diuji.”

Menurut Andrie, entrepreneur memang harus memiliki jiwa leadership agar bisnisnya bisa berkembang dengan lebih tertata. Selain itu, inovasi dan diferensiasi produk akan menjadi kekuatan bagi Tony untuk tetap eksis di bisnisnya. Tony harus membuat satu keunikan jika tidak menjadi yang terbaik. “Nanti semuanya (leadership, manajemen, produk dan bisnis Tony) akan tumbuh dan berkembang bersama-sama,” kata Andrie.

Reportase: Ahmad Yasir Saputra

Read more...

Kisah Pedagang Es Jadi Pebisnis Sukses

Thursday, April 15, 2010

Berbagai pekerjaan kasar pernah dilakoninya, dari kuli angkut, supir angkot hingga tukang es. Berkat kemauannya belajar, pria berdarah Arab-Betawi ini mampu menjadi pengusaha sukses. Setelah melewati krismon, bisnisnya pun terus beranak-pinak.

Kenangan berdagang es sekoteng pada 1980 di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, tak akan pernah dilupakan Hisyam Said Bawahab. Karena, itulah detik-detik awal perubahan drastis dirinya dari orang kecil menjadi pebisnis sukses seperti sekarang. Saat itu pria keturunan Arab-Betawi ini berkenalan dengan salah seorang pembeli es sekotengnya yang ternyata pemilik UI Metal Work (UMW), Umawar. Waktu itu dia baru pulang dari Inggris. Nawarin sama ane mau nggak ikut dia kerja di perusahaan yang mau dibikinnya di bidang metal works, ujar Hisyam dengan logat Betawi yang kental.

Pria kelahiran 15 April 1954 ini mengaku saat itu ia tidak mengerti apa itu metal works. Metal itu besi. Works itu bekerja. Lalu kalau digabung, besinya diapain? katanya mengingat pertanyaan lugunya 30 tahun silam. Namun, ia pikir saat itu tak ada salahnya mencoba. Ia pun menerima tawaran sebagai staf pemasaran. Saya juga ngeliatin anak-anak bikin apa, ujarnya. Dua tahun kemudian UMW mulai mengkhususkan diri pada pembuatan perangkat dapur (kitchen equipment). Potensi bisnis ini besar karena saat itu belum banyak pemainnya. Hampir semua pengadaan barang untuk kategori ini di berbagai hotel dan perusahaan mengandalkan impor. Dengan keleluasaan seperti itu, UMW cukup berjaya saat itu. Di sinilah Hisyam banyak belajar tentang bisnis. Tahun pertama, banyak proses kerja yang perlu disesuaikan. Mesin bubut saya berdiameter 60 cm. Setelah sampai ke lokasi, ternyata yang harus dibubut berdiameter 1 meter. Saya harus balik lagi ke kantor, kata pria berusia 56 tahun ini sambil mengingat kerja kerasnya saat itu.

Setahun kemudian, pertumbuhan bisnis UMW turun. Pada momentum inilah Hisyam memilih merintis bisnis sendiri: memproduksi perangkat dapur dengan dibantu tiga karyawan. Hanya setahun berjalan, usaha ini kandas. Supaya dapurnya tetap mengepul, sulung dari 9 bersaudara ini kembali berjualan es. Ketika sedang duduk menanti pembeli es cendolnya di daerah Matraman, Jakarta Pusat, Hisyam ditawari seorang kawan baiknya untuk memakai gedung miliknya. Pake tuh tempat gue, kosong. Ntar kalau ada duit, baru bayar, ujar kawannya itu. Di gedung inilah ia menjalankan roda bisnisnya yang sempat terhenti, dan kembali diawali dengan tiga karyawan. Kali ini ia bertekad lebih serius. Pada 1985, secara resmi PT Hatindo Metal Utama berdiri — Hatindo adalah singkatan Hati Indonesia. Produk-produk yang dihasilkannya: meja, tempat cuci piring, pemanas, pendingin, exhaust van dan kompor. Di samping memproduksi, ia juga mengimpor produk lain seperti oven, mixer, steamer dan rice cooker besar yang kualitasnya lebih bagus.

Diakui Hisyam, awalnya ia tidak tahu persis seluk-beluk produksi dan pengadaan peralatan dapur. Namun, ia tak menolak order. Setelah order masuk, barulah ia pelajari struktur perangkat tersebut. Caranya, ia tak segan-segan membongkar barang impor (pendingin, misalnya) untuk mengetahui komponen di dalamnya. Dari sini, ia lalu membuat pendingin versi lokal. Uniknya, kliennya tak keberatan, sehingga Hisyam pun kerap meminta klien membeli perangkat impor yang mereka inginkan, lalu Hatindo akan menirunya.

Sedikit demi sedikit hasil dari bisnis ini ia kumpulkan. Selanjutnya, sebagian dana tersebut digunakan untuk membeli tanah dan membangun pabrik di Ciputat, Jakarta Selatan, seluas 1.000 m2. Sebagian lainnya ia gunakan untuk membeli mesin bekas dan bahan baku yang didapatnya dari kawasan Kota, Jakarta Barat. Seiring dengan pertumbuhan bisnisnya, karyawan pun bertambah. Pelanggannya tersebar di mana-mana, bahkan sampai luar Jawa. Rahasianya cuma satu: bisa membuktikan punya produk yang tidak kalah bagus kualitasnya dari produk luar negeri. Selanjutnya, ya mau capek dan kerja keras, ungkapnya sembari menambahkan, saat itu ia kian sering mengikuti berbagai pameran baik di dalam maupun di luar negeri. Melihat perkembangan usahanya yang pesat, Bank BNI menawarinya kredit. Saat itu ia pun mengambil Kredit Usaha Kecil BNI sebesar Rp 50 juta. Hisyam tidak membutuhkan waktu lama untuk melunasinya: hanya setahun.

Lama-kelamaan, bisnis ini mulai banyak diminati orang. Namun, Hatindo tak goyah. Perusahaan ini tetap melanjutkan pelayanan 24 jam terhadap konsumen. Kalau sore karyawan pulang, saya taruh dua karyawan untuk menjaga, takutnya ada telepon klien masuk, kata Hisyam. Kelebihan lain, Hatindo selalu percaya diri terhadap semua permintaan. Pantang bagi Hatindo menolak. Bagi Hisyam, tak ada yang tidak mungkin. Sesulit apa pun permintaan klien, selalu ada jalan keluarnya. Ia menekankan pada anak buahnya untuk secepat mungkin mengeksekusi permintaan klien. Penawaran tidak boleh lama. Orang telepon sekarang, ini hari juga harus sampai ke dia, ujarnya tandas. Penawaran di sini biasanya menyertakan gambar, perhitungan, spesifikasi, dan lain-lain yang terkait dengan order. Tidak ada kata besok. Lama pembuatan barang sekitar 1-3 bulan. Saya planning pakai kapal laut pengiriman barang impor. Tapi saya lihat outlet-nya sudah mau buka. Maka, saya ubah naik air plane, papar Hisyam mencontohkan salah satu cara kerjanya.

Prinsipnya: kibarkan bendera dulu. Nanti kalau bendera sudah berkibar, kerugian (uang) yang sebelumnya bisa kembali. Baginya, keuntungan merupakam hal nomor dua setelah pelayanan. Sampai-sampai kalau saya datang ke klien, saya bilang, Gue dateng ke sini bukan cari order. Gue datang cari lu, kata Hisyam. Rupanya cara tersebut cukup jitu untuk mengambil hati calon klien. Menurutnya, hal terpenting pertama adalah klien mau memakai jasanya. Jika jumlah klien sudah banyak, untuk cari klien baru ia cukup bilang, Masak ente gak mau pakai jasa kita?

Pendekatan ini cukup berhasil. Saat itu, hampir bisa dipastikan, kalangan restoran besar, perusahaan multinasional dan hotel berbintang lima (pada 1980-an dan 1990-an), menggunakan jasa Hisyam. Sebutlah, Hotel Hilton dan resto Ponderosa di Widjojo Center. Okupansi hotel sangat tinggi. Mereka sudah tidak mikir harga. Yang penting, siapa yang bisa cepat, dia yang dapat order, ujar ayah tiga anak ini. Bahkan, Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pernah menjadi kliennya. Ia punya istilah yang unik untuk usahanya. Kepusingan orang kami ambil, kami jadiin duit. Kalau dipusingin lagi, orang malah lari, ungkapnya. Dan, ia menyebut manajemen usahanya sebagai gaya manajemen jalanan.

Pada 1985, ia berkenalan dengan Ron Muller, yang ketika itu merupakan pemegang master franchise Pizza Hut (PH) di Indonesia. Ron ternyata memercayakan pengadaan alat-alat dapurnya pada Hatindo. Ekspansi PH di Indonesia sangat cepat. Hanya dibutuhkan waktu empat tahun untuk membuka 75 gerai. Hatindolah yang ketiban rezeki mengerjakan perangkat dan instalasi dapur untuk 75 gerai PH saat itu. Hisyam mengaku, omset terbesar sampai sebelum 1995 berasal dari order PH. Malah, ia dipercaya memproduksi boks pengantar PH (ditempelkan di motor petugas). Dalam sebulan, Hatindo memproduksi ratusan ribu boks. Derasnya order dari PH membuatnya harus menyewa pabrik di Pulogadung, Jakarta Timur. Sepanjang malam, Hisyam tiada henti memperhatikan kelangsungan proses kerja di pabrik. Dari order boks pengantar piza saja, ia bisa meraih keuntungan Rp 30 juta/bulan — angka yang cukup besar kala itu. Selama sepuluh tahun ia mendapatkan order dari PH untuk produksi boks pengantar pizza. Nekuk uangnya aja di dompet ampe susah, ujar Hisyam berkelakar. Bisa dikatakan, periode 1985-95 merupakan masa jaya Hatindo. Saat itu jumlah karyawannya mencapai 250 orang.

Hisyam mengakui bisnis yang dijalaninya saat itu sangat menggiurkan. Gambarannya, harga ditentukan dari seberapa tinggi tingkat kesulitan dan harga barang yang diimpor. Seperangkat dapur untuk resto nilainya bisa mencapai Rp 300 juta/gerai. Marginnya 80%-100% per order. Ada tiga unsur perhitungan keuntungan: material, proses dan profit — perbandingannya sama. Dengan margin yang cukup besar itu, akhirnya ia berhasil menyelesaikan pembangunan pabrik barunya di Ciputat.

Sampai kemudian pada 1998 datanglah bencana itu: krisis moneter. Mayoritas klien lamanya tidak lagi berekspansi, bahkan banyak di antaranya yang menutup gerai. Alhasil, omset Hatindo merosot drastis. Sejak krismon, kami susah. Modal yang dibutuhkan besar, tapi untungnya tipis, ungkap Hisyam. Boleh jadi, itu karena nilai tukar rupiah yang anjlok drastis akibat krismon dan mahalnya bahan baku. Bahkan, kini ia tidak bekerja sama lagi dengan PH. Untunglah, ia masih bisa mendapat klien baru, di antaranya resto Dairy Queen, resto sandwich Cali Deli dan pabrik sepatu.

Tahun 2000, pelan-pelan bisnis Hatindo mulai merangkak naik. Dan, pada 2001 ia memutuskan mulai mencoba bisnis lain. Setelah hanya menjadi pemasok perangkat dapur untuk resto piza, ia beralih menjadi pemilik resto sejenis, yang memakai merek Papa Ron’s Pizza. Gerai pertamanya ada di Warung Buncit. Gerai ini juga merupakan gerai Papa Ron’s pertama di Indonesia. Ia membeli lisensi franchise dari Ron Muller, pendirinya. Sukses dengan gerai pertama, Hisyam membuka gerai kedua dan ketiga di Permata Hijau, Jakarta Selatan, dan Depok. Hubungan baiknya dengan Ron Muller, yang diawali di Pizza Hut, masih terjalin sampai sekarang.

Diungkapkan Hisyam, modal pembangunan satu gerai Papa Ron’s tergolong besar. Khusus interior dan dapur memakan dana Rp 1,5 miliar. Ini belum termasuk modal tanah dan bangunan. Alhasil, nilai investasinya minimal Rp 5 miliar per gerai. Setiap gerai mempunyai perbedaan dalam periode kembali modal. Namun, ada beberapa gerai yang mampu meraih breakeven point dalam waktu lima tahun. Satu gerai membutuhkan 25-35 karyawan.

Properti merupakan bisnis Hisyam selanjutnya. Lebih dari lima gedung di sepanjang jalan Warung Buncit merupakan properti yang dibangunnya. Sebenarnya, pada 1994 ia sudah merintis bisnis ini. Saat itu ia mencoba peruntungan pertama dengan membeli tanah dan membangun perumahan Pesona Agung (23 unit rumah) di Depok, seluas 2 ha. Pada 1996 semua rumah tersebut terjual. Satu rumah disisakannya sebagai rumah pribadinya. Margin yang diambilnya 50%-60%. Ini berbeda dari tren industri properti sekarang di mana margin yang diperoleh hanya 30%. Sekarang daya belinya lemah. Jadi, kami tidak bisa menahan lama.

Hisyam mengakui bisnis properti yang dijalaninya tidak berbadan hukum. Kegiatan bisnis ini

bersifat perorangan. Polanya adalah dengan membeli tanah di berbagai kawasan. Setelah dibangun untuk kepentingan ruko, gedung perkantoran atau perumahan, ia pun akan menjualnya.

Pelan tetapi pasti, proyek propertinya bertambah. Ia mencermati, tak ada rumah mewah yang tak laku. Alhasil, ia membangun 22 rumah di Sektor 9 Bintaro, dilanjutkan dengan membangun perumahan Pesona Eksklusif. Ia juga membangun 35 rumah serupa di kawasan pinggiran Jakarta seperti Ciputat, Supratman, Pondokrangon dan Jatimakmur. Beberapa di antaranya sedang dalam pembangunan. Prinsipnya, setiap ia menyelesaikan satu proyek pembangunan, walaupun belum terjual, tenaga kerja akan dialihkan untuk mengerjakan proyek pembangunan selanjutnya. Sayang bila ada tenaga tidak dimanfaatkan, ujar mantan anggota Dewan Pakar Partai Keadilan Sejahtera ini.

Selain sukses dengan bisnis perumahan, Hisyam membangun beberapa gedung di sepanjang Jalan Warung Buncit: Menara Takaful (gedung pertamanya), Menara Kospin, Ranch Market, dan beberapa ruko lain. Ia sengaja mengambil kawasan Warung Buncit. Alasannya, Daerahnya manis, kata Hisyam seraya menerangkan, daerah manis artinya cepat terjual. Padahal, diakuinya, harga tanah di wilayah ini tergolong mahal, kini mencapai Rp 10 juta/m2. Ada beberapa gedung miliknya yang laku terjual seharga Rp 20-an miliar di kawasan itu.

Tak hanya properti yang memikat Hisyam. Diam-diam ia merintis bisnis distributor pendingin dari Taiwan. Untuk itu, ia mendirikan anak usaha dengan nama PT Kota Jaya. Begitu produk Cina masuk dengan harga lebih murah, pendingin kami kalah harga, ujarnya. Sekarang Kota Jaya yang secara operasional ditangani anak pertama Hisyam juga membuat perangkat dapur berbahan dasar stainless steel.

Saat ini bisnis Hisyam beragam. Ia tak hanya berbisnis perangkat dapur, properti dan alat pendingin, tetapi juga alat kesehatan, biro perjalanan dan agensi periklanan. Akan tetapi, di bisnis-bisnis yang dirintis saudaranya itu, ia hanya menaruh kepemilikan saham, masing-masing sekitar 25%.

Bagi Hisyam, memulai bisnis tak perlu berpikir lama. Hanya ada satu pertimbangan utama: bisnis ini mempunyai potensi berkembang ataukah tidak. Selanjutnya, ia akan mengeksekusi rencana itu. Bisnis itu berbuat. Bukan ngomong. Ngga ada tuh kata nanti buat saya. Waktu saya muda, setahun ini bisa bikin berapa proyek. Jalan semua., ujarnya bangga.

Tahun ini Hisyam berencana membuka bisnis baru yang berkaitan dengan kartu belanja dan televisi kabel. Dikatakannya, setelah melintasi berbagai industri bisnis, ia banyak mendapat pelajaran berharga untuk tetap menjaga kelangsungan usaha. Kalau buka itu gampang, maintain-nya yang sulit, katanya. Ia berkeyakinan, berbisnis apa pun, selama masih ada kemauan dan kerja keras, pasti bisa dibangun.

Menurut Noragraito, Manajer Operasional PT Entertainment International Tbk. — perusahaan yang menaungi merek Papa Ron’s, salah satu sifat Hisyam yang menonjol adalah keterbukaan. Di setiap bisnisnya, Hisyam blak-blakan ngomongin soal modal dan keuntungan. Ia ingin karyawannya pun merasa memiliki perusahaan tersebut, kata lelaki 58 tahun itu. Hisyam juga tak pelit berbagi ilmu. Jika ada karyawannya yang merasa kesulitan mengerjakan tugas, Hisyam tak segan-segan memberitahu strategi pentingnya. Dia selalu bilang, ‘Ini sawah kalian. Kalau kalian serius menggarapnya, hasilnya pasti bagus dan kembali untuk kalian’, kata Noragraito menirukan perkataan Hisyam. Menurutnya, sifat itu terkadang menjadi bumerang bagi Hisyam. Banyak anak buahnya yang keluar karena mempunyai bekal tentang strategi berbisnis di industri yang sama.

Karakter Hisyam lainnya yang menonjol adalah kepeduliannya pada anak buah. Tidak lihat level. Asal karyawannya berprestasi dan ada keuntungan lebih, dalam setahun pasti ada saja anak buahnya yang dibiayai naik haji, ujar pria yang sudah 23 tahun mengenal Hisyam itu. (*)

Reportase: Rias Andriati
Read more...

Merintis Bisnis di Paruh Baya

Thursday, March 4, 2010

Merintis bisnis saat krismon 1997 sempat membuatnya limbung. Toh berkat kegigihannya, bisnis yang dirintisnya tumbuh berkembang. Produknya diekspor ke sejumlah negara.


Haruskah berbisnis sejak usia muda? Kalau itu ditanyakan pada Tony Djumadi, jawabannya: tidak. Dia sukses berbisnis justru di masa pensiun. Produk disposable packaging buatannya digunakan sejumlah perusahaan dan merek terkenal. Bagaimana ceritanya?

Tepat di usia 50 tahun, Tony memutuskan beristirahat total dari dunia kerja dan pergi ke Australia untuk menemani sang anak yang sedang kuliah. Namun jangankan menyepi, di Negeri Kanguru itu dia bertemu dengan kawan yang mengajaknya berbisnis kemasan makanan. Dia pun setuju saja, asalkan sang teman yang nantinya menjalankan perusahaan.

Perkongsian bisnis Tony dan kawannya diwujudkan dengan mendirikan PT Pola Paperindo Jayatama (PPJ) tahun 1997. Keduanya penuh semangat. Malang, ketika Tony asyik mengurusi pemesanan mesin dan bahan baku, cobaan menerkam. “Ketika krisis menerpa tahun 1997 teman saya telepon dan mengatakan kondisinya hancur berantakan. ‘Bagaimana ini’?” ujar Tony menirukan ucapan relasinya yang galau. Sementara Tony di Australia, mitranya berada di Jakarta. Akhirnya, kolega bisnisnya itu mundur. Tinggallah Tony menjadi pemegang saham tunggal.

Setelah berdiskusi dengan anak-anaknya, Tony kembali ke Indonesia dan menjalankan PPJ. Di tengah badai krisis, dia yakin prospek bisnis disposable packaging karena sudah melakukan survei lebih dulu sebelum PPJ dibesut. Hasil survei menunjukkan: gaya hidup masyarakat yang kian praktis menuntut konsumsi makanan dan minuman yang dikemas dalam kertas, baik berupa cup, boks, piring ataupun food container. Bahan kertas juga lebih aman, baik untuk kesehatan dan ramah lingkungan.

Bak koin dengan dua sisi, krismon pun dinilai Tony memiliki sisi negatif dan positif. Di satu sisi, daya beli konsumen turun. Namun di sisi lain, peluang terbuka karena banyak pemain disposable packaging yang berguguran. Waktu itu yang tersisa dua-tiga pemain asing dan empat-lima pemain lokal. Jumlah kompetitor yang menyusut itu memberi dorongan positif Tony agar lebih optimistis membesarkan PPJ.

Toh optimismenya mendapat ujian tak ringan. Dengan segala keterbatasan, PPJ mulai memproduksi kemasan kertas berbentuk cup. Namanya juga pabrik, meski kondisi sulit, jumlah karyawannya terbilang banyak, karena kala itu PPJ mempekerjakan 60-75 orang. “Tapi, order sangat susah. Waktu krisis kami benar-benar drop, malah sampai pernah karyawan kerja seminggu hanya dua-tiga hari,” cerita pria kelahiran Malaysia 26 Januari 1947 itu dengan nada pilu. Pabriknya pun cuma sempat jalan dua-tiga hari seminggu. Karyawan masuk bergiliran: shift satu datang, shift dua istirahat, beberapa hari kemudian baru masuk.

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah susah cari order, dia pun kelabakan mendapatkan pinjaman bank buat modal kerja. “Mau impor saja, kami buka L/C di luar negeri nggak mau terima meski dari bank BUMN. Jadi, harus berliku-liku. Lari ke Singapura, minta bank Singapura buka, ternyata di sana juga ditolak. Pokoknya banyak sekali kendalanya,” Tony mengisahkan pengalaman pahitnya.

Bagaimana solusinya? Dalam kondisi terimpit, Tony lebih fokus melayani pelanggan. Dengan telaten, pihaknya mendatangi satu per satu pelanggan untuk bicara dari hati ke hati. Kepada pelanggan, dia menanyakan apa saja masalah yang dihadapi mereka. Ada yang mengutarakan kendala harga, masalah teknis, dan desain kemasan. Rupanya, salah seorang pelanggan berterus terang kalau sedang menjalankan program paket hemat (pahe) dengan harga Rp 5 ribu. Pelanggan bertanya bagaimana caranya dengan produk seharga Rp 5 ribu, tetapi tetap bisa menggunakan paper cup. “Oke, kami tahan dulu, sementara rugi nggak apa. Banyaklah kompromi yang kami lakukan saat itu demi menjaga hubungan baik dengan pelanggan,” papar peraih gelar MBA bidang finance dari Indonesian European University itu.

Pengorbanan Tony tidak sia-sia. Seiring berjalannya waktu, dia rajin membangun citra perusahaannya. Dan ketika iklim ekonomi serta dunia usaha berangsur membaik, kondisi bisnis para pelanggan pun pulih. Di luar dugaan, ternyata banyak pelanggan yang loyal. Mereka simpati dengan cara kerja PPJ dan tetap menjalin kerja sama hingga sekarang. Setidaknya hal itu terungkap dari pernyataan Janeley Watson. “Kami sudah lebih dari 10 tahun menjadi klien PPJ. Sejauh ini hanya produk PPJ yang kami gunakan,” ujar Manajer Key Account Nasional PT Coca-Cola Bottling Indonesia itu.

Tony juga proaktif melakukan pengembangan produk. Mantan Manajer Penjualan Nasional PT Guiness Indonesia ini sadar bahwa makin lama kompetitor lokal dan asing kian meningkat. Mereka sama-sama menawarkan rentang produk yang lengkap. Untuk menyiasati, dia tidak alpa getol mengamati perkembangan industri disposable packaging di mancanegara. Makanya, dia bertekad menjadikan PPJ one stop shopping kebutuhan kemasan makanan dan minuman yang terbuat dari kertas impor. Lalu, diluncurkanlah beberapa varian kemasan baru dari kertas.

Jika dulu hanya punya paper cup untuk soft drink, tahun ketiga PPJ sudah masuk ke paper cup untuk es krim, kopi, teh, susu, sampai noodle cup. Karena awalnya hanya menjual produk paper cup, maka merek yang digunakan adalah Polacup. Namun seiring penambahan jumlah rentang produk, selanjutnya merek yang dipakai berubah menjadi Pola, sesuai dengan nama depan perusahaan.

Varian produk yang bertambah makin klop dengan komitmen menjaga mutu. Itulah sebabnya bahan baku kertas yang dipakai selalu kualitas impor. Kertas yang digunakan adalah yang berserat panjang dan itu hanya ada di Amerika Serikat, Eropa serta Kanada. Namun, strategi ini dilematis juga. Sebab, dengan mengandalkan bahan baku impor, Tony dihadapkan pada kendala pasokan yang tidak stabil. Sering jika memesan material sekarang, kiriman baru tiba 6 bulan kemudian. Padahal, pelanggan acap mengorder secara tiba-tiba.

Konsistensi PPJ dalam menghasilkan produk disposable packaging yang bermutu, tidak saja membuat pelanggan makin lengket, melainkan juga mampu menggaet pelanggan baru. Buktinya jumlah klien terus meningkat dari perusahaan bonafide dan multinasional. Kini, sektor bisnis pelanggan PPJ cukup beragam. Mulai dari perusahaan yang bergerak di bidang food & beverage, fastfood, bakery, airlines, sekolah, sampai hotel. Beberapa merek yang mengunakan produk Pola di antaranya Church’s Texas Chicken, A&W, McDonald’s, Secret Recipe, Pizza Hut, Starbucks Coffee, The Coffee Bean & Tea Leaves, Coca-Cola, New Zealand Singapore Airlines, Air Asia, Nestle, Conoco Philips dan CNOOC.

Meski basis pelanggannya lumayan kuat, Tony pantang berperang harga dalam bersaing. “Kami jarang main di pricing, karena sebagai market leader nggak bisa hanya cheap, cheap dan cheap,” tuturnya. Persaingan terletak pada layanan, citra dan jaringan distribusi. Dengan menjaga tiga hal itu, Tony percaya konsumen akan datang sendiri. Sebagai gambaran, harga satu lunch box PPJ sama dengan tiga kali lunch box yang terbuat dari styrofoam. Cukup mahal memang. Pengguna jasanya pun memiliki motivasi sendiri dalam menggunakan produk disposable packaging. Entah itu pertimbangan prestise, kualitas, layanan atau hal lainnya.

Setelah sukses menaklukkan pasar dalam negeri, sejak tahun 2000 PPJ melakukan penetrasi ke pasar luar negeri. Karena itu, produknya diekspor ke Australia, Selandia Baru, Singapura, Taiwan dan Inggris. Sayangnya, ketika produk murah dari Cina mulai masuk lima tahun kemudian, permintaan ekspor PPJ melandai. “Dulu rasio ekspor kami hampir 40%. Tapi, sejak tahun 2005 dengan serbuan produk Cina di pasar dunia, ekspor kami turun,” papar ayah Betty dan Catherine itu.

Sekarang PPJ hanya mengekspor ke Australia dan Eropa. Kendati demikian, Tony lega karena belakangan, pelanggan lama mulai datang kembali. Dia menduga mungkin karena merasa tidak puas dengan layanan dan kualitas dari produk-produk Cina. Namun, dengan keterbatasan kapasitas produksinya, PPJ membatasi maksimum hanya 25% dari produksinya yang diekspor. “Karena terlalu banyak ekspor belum tentu menguntungkan. Apalagi pasar domestik merupakan andalan yang harus dijaga,” imbuh Ketua Yayasan Lions Indonesia yang hobi membaca ini.

Dengan jangkauan pasar yang melebar, berapa omset PPJ? Sayang, tampaknya Tony alergi bicara angka-angka. Dia cuma mengaku, dalam tiga tahun terakhir pertumbuhan PPJ mencapai dua digit. Yang jelas, PPJ tetap konsisten menggeluti dunia disposable packaging. “Makanya tahun 2010 akan ada mesin baru lagi yang masuk,” ucap pengusaha yang kini mempekerjakan 150 karyawan tetap dan 100 pegawai kontrak itu sembari tertawa. Maklum, dua pabrik PPJ di Cengkareng seluas 1.500 m2 sekarang sudah full capacity.

Para pelanggan optimistis masa depan PPJ prospektif. Pasalnya, “PPJ mempunyai tiga keunggulan. Pertama, memiliki mesin forming yang cukup baik, sehingga hasil forming-nya pun sempurna, produk jadinya jarang yang bocor atau rusak. Kedua, lokasi pabrik dan gudangnya masih di Jakarta, sehingga pengiriman barang lebih cepat. Delivery lebih cepat dan mudah. Ketiga, harga yang ditawarkan cukup kompetitif,” papar Temmy Karjadi, Manajer Pengembangan Bisnis Popeyes Lousiana Kitchen & Sate Khas Senayan. Dengan ketiga kekuatan itu, dia yakin PPJ akan memimpin pasar. Tiap bulan kedua resto yang menjadi pelanggan sejak tahun 2001 itu dipasok PPJ berupa paper cup berbagai ukuran, cup sup, dan cup es krim dengan jumlah 50-8.000 pieces.

Pendapat Janeley menguatkan soal kompetensi PPJ. “Yang pasti PPJ reliable, kualitas sesuai dengan standar kami dan timnya juga kooperatif,” katanya memuji. Arti kooperatif di sini, menurut Janeley, umpan baliknya cepat. Sebab, kadang-kadang Coca-Cola mengorder di luar kebiasaan, minta cepat dan deadline-nya juga mepet. “PPJ itu willing to help walaupun mereka sedang penuh atau antre. Untuk support itu kami dapatkan dari PPJ,” tambahnya seraya mengaku jumlah pesanan saban bulan tidak sama, tergantung kebutuhan.

Jadi, siapa takut bisnis di usia paruh baya?

Reportase: Wini Angraeni

Read more...