Sukses Sang Penari di Bisnis Kerajinan Perak Dunia

Thursday, July 29, 2010

Jiwa seni yang mengalir deras dalam tubuhnya mengantarkan Nyoman Suarti menjadi desainer perak kelas dunia. Ketika dunia bisnis berada dalam genggamannya, ia justru memutuskan pulang ke tanah kelahirannya, Bali. Bagaimana lika-likunya menembus pasar mancanegara?

Gelung Arjuna dalam ajang New York Fashion Show itu membetot ratusan penikmat seni kerajinan perak. Memadukan gaya kontemporer dengan sentuhan klasik Bali, produk dengan kerang atau bebatuan indah seperti mutiara dibalut ornamen ukiran khas Bali itu mengantarkan sang desainer, Desak Nyoman Suarti, berkibar di jagat sosialita New York.

Sejak momen yang berlangsung tahun 1980 itu, sosok energik, lincah, ramah dan cekatan itu, mendapat julukan Suarti Perak Bali. Namanya makin berkibar ketika ia mendirikan galeri kerajinan perak Balinesia Inc. di jantung kota New York, 1986. Setelah itu, kiprah Suarti sebagai desainer perhiasan perak melanglang sampai ke London, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya. Pesanan dari selebritas dunia pun membanjir. Produk Suarti muncul di Value Vision, jaringan televisi belanja di Amerika Serikat. Majalah Vogue Alture pun mengulas rancangan kelahiran Ubud, Bali 25 Mei 1958 ini.

Mengundang decak kagum banyak kalangan, namanya pun menjadi merek desainer kerajinan perak kelas atas. Kini, sudah ribuan desain yang dihasilkan ibu tiga anak dan nenek dua cucu ini. Toh, hujan emas di negeri orang itu justru menggelitik Suarti untuk pulang ke tanah kelahirannya pada 1990. Bersama sang suami, Peter Luce, ia pulang ke Bali dan mendirikan PT Suarti. Padahal, bisnis perak Suarti tengah berkibar di mancanegara seiring kiprahnya membeli perusahaan perak Kanada, Bali Inc.

Suarti tentu punya alasan. Kepulangannya ke Bali ternyata untuk memperbesar produksi. Suarti tak tanggung-tanggung merogoh koceknya hingga Rp 5 miliar buat mendatangkan mesin-mesin produksi agar para tukang peraknya menyelesaikan order tepat waktu. “Waktu penyelesaian menjadi kendala terbesar dalam menyelesaikan pesanan,” ungkapnya. Mesin-mesin ini diharapkan Suarti bisa meringankan kerja para tukangnya tanpa meninggalkan pekerjaan manual yang menjadi syarat sebuah hasil kerajinan tangan.

Sementara pemasaran, Suarti sejak awal memfokuskan diri menggarap pasar ekspor saja dengan meneruskan pasar yang telah dibinanya saat masih di AS. Hampir 90% karyanya diekspor ke AS, Australia, Eropa dan negara-negara Asia. Suarti hanya bekerja sama dengan mitra-mitra bisnisnya secara wholesale. “Kebijakan harga ritel produk saya serahkan sepenuhnya pada mitra bisnis,” ujarnya. Dengan sistem ini membuatnya bisa lebih fokus mendesain dan berproduksi saja. “Saya tidak mau direpotkan dengan permintaan perorangan,” tambahnya. Walaupun diakui bila menjual ritel tentu keuntungan yang berhasil diraup akan jauh lebih besar.

Untuk membantu merealisasi ide-idenya, ia membentuk Suarti Design Centre, yang saat ini menaungi tiga desainer yang siap merealisasikan idenya. “Saya tetap memberikan makna dan jiwa pada setiap produk yang digarap tim,” ujar Suarti sambil memperlihatkan hasil desainnya. “Tanggung jawab desain dan memberikan jiwa pada setiap produk Suarti tetap di tangan saya,” imbuh Suarti menggambarkan posisinya sekarang. Dia mengaku tidak akan pernah kehabisan ide mengingat begitu beragamnya budaya Indonesia yang bisa diadaptasi. “Desain saya dipengaruhi gerak tari Bali,” katanya.

Suarti memang teguh mengeluarkan rancangan bergaya tradisional yang mempunyai kesan unik untuk tetap bersaing di pasar internasional. “Saya tetap berkomitmen untuk tampil melestarikan kehebatan budaya,” tutur Suarti di teras belakang rumahnya yang bergaya tropis, menghadap langsung ke laut lepas di Desa Ketewel, Gianyar, Bali.

Dengan 120 karyawan yang bekerja di kantornya yang letaknya berhadapan dengan rumah tinggalnya, dan tidak kurang dari 350 tukang yang bekerja di rumah masing-masing, Suarti merasa agak kewalahan memenuhi order yang harus diselesaikan untuk bulan Mei-Juli, yang menghabiskan bahan baku hingga mencapai tidak kurang dari satu ton perak yang dikombinasikan dengan berbagai bebatuan. Selain memenuhi pesanan mitra bisnis wholesale-nya, secara rutin setiap dua bulan Suarti juga tampil di home shopping network AS dan Inggris dengan air time empat jam untuk memperkenalkan desain terbarunya berupa satu tema terpadu mulai dari cincin, gelang, kalung, anting hingga bros yang rata-rata dihargai US$ 100 untuk cincin, sedangkan kalung US$ 350.

Dari tampilnya di TV itu, Suarti mengaku meraih Rp 1-2 miliar per bulan dengan margin keuntungan rata-rata 30%. Pemasaran produk Suarti memang masih ditangani sendiri. Selain rutin tampil di QVC dan Value Vision, ia juga mengikuti pameran di luar negeri untuk mencari mitra bisnis wholesale, sebagai upayanya memperbesar pasar. “Aktif jemput bola. Go and get it. Ayo desainer Indonesia, you can do it,” ujarnya bersemangat.

Kerja keras dan bertanggung jawab dijadikan dasar pijakan Suarti untuk terus berkembang di pasar internasional. Tak heran ia begitu bersemangat melakukan perjalanan karena baginya tiga showroom yang ia miliki di Bali hanya dipakai untuk memajang contoh produknya dan sisa hasil ekspor (bila ada), bukan untuk menjaring pembeli eceran. Dengan alasan yang sama, ia memilih tidak mempunyai toko sendiri di luar negeri, melainkan hanya mitra bisnis yang diberi kebebasan menjual secara ritel, tersebar di AS, Inggris, Jerman, Australia dan Jepang, yang rata-rata mampu memberi pemasukan hingga Rp 29 miliar ke pundi-pundi Suarti setiap tahun.

Karakteristik pembeli di negara maju, menurut Suarti, sangat gampang ditangkap. “Asal bisa jujur, mempunyai komitmen dan bertanggung jawab terhadap produk yang dihasilkan,” katanya. Setelah hampir 20 tahun, ia berhasil membesarkan PT Suarti tidak hanya memproduksi aksesori berbahan baku perak. Saat ini tidak kurang dari 9 anak perusahaan bernaung di bawah PT Suarti seperti Suarti Ritual of Fire (fashion jewelry), Suarti Homeware, Suarti Gold, Visnu (pengembangan dan kreasi), Luh Luwih (Sanggar Seni Wanita Bali), Maestro Resto Sanur, Maestro Bistro Celuk, dan Swamitra Visnu (koperasi).

Kejelian mengendus peluang bisnis dipadu dengan kekuatan “jiwa” dalam setiap produk yang dihasilkan adalah kunci keberhasilan Suarti mengekspor aksesori perak ke mancanegara dengan omset puluhan miliar rupiah. Padahal, latar belakangnya bukanlah keluarga wirausaha. Ia justru lahir dari keluarga seniman. Kakek dan neneknya, Dewa Limbak dan Jero Nesa, dikenal sebagai pionir penari Legong Keraton. Sang ibu, Jero Gambir, terkenal sebagai penari Arja yang juga menempa Suarti menjadi penari andal. Sementara sang ayah, Dewa Putu Sugi, berprofesi sebagai pelukis. Alhasil, pada usia 10 tahun (1968), Suarti sudah menyabet juara satu Lomba Tari Taruna Jaya dalam Festival Gong Kebyar se-Bali.

Mengikuti jejak ayahnya, Suarti juga piawai melukis. “Saya merasa seolah-olah berada di surga saat mulai membuat goresan di atas kanvas,” tutur sulung dari tiga bersaudara ini. Perasaan itu, menurutnya, karena sebelumnya ia hanya bisa mencoret-coret tanah karena kemiskinan orang tuanya. Lukisan perdananya ini ternyata mengundang kekaguman seorang editor terkenal dari New York, Mr. Levine. Tidak hanya tertarik pada lukisannya, Levine juga mengupah Suarti kecil bersama grup tarinya untuk menari. Di kemudian hari Levine banyak membeli dan menjadi penggemar fanatik lukisan Suarti.

Perjalanan Suarti sebagai pengusaha sejatinya dimulai dari kepiawaiannya menari. Diawali dengan petualangan pertama ke luar negeri pada 1972 saat diajak bergabung oleh Anak Agung Gede Mandra, penari dan pemilik grup tari asal Peliatan, Ubud – yang sangat terkenal saat itu – menjadi Duta Kebudayaan Indonesia untuk ikut menari di Australia. Sejak saat itu, perjalanan Suarti melanglang buana seolah tak terbendung. Apalagi setelah ia diperistri Charles Levins, warganegara AS pada 1973, yang kemudian mengajaknya menetap di Singapura. Pemerintah Singapura kemudian memintanya menjadi pengajar tari Bali yang dilakoni Suarti sambil belajar fashion. Ia sempat menimba ilmu di Prett School of Design dan New York School of Design.

Seiring perceraiannya setelah 7 tahun menikah, Suarti memutuskan hijrah ke AS. Ia mulai berkiprah di New York Asia Society dan memantapkan diri untuk hidup di dunia seni dengan mengajar tari di seluruh universitas di AS. Ia kemudian menemukan jodohnya, Peter Luce, tahun 1983. Setelah menikah yang kedua kalinya, Suarti mulai menekuni dunia fashion dengan fokus mendesain dan membuat kerajinan berbahan baku perak. Bermula dari produksi kecil-kecilan dengan jumlah terbatas dan hanya dipasarkan di kampus tempatnya mengajar tari, bisnis kerajinan peraknya ternyata berkembang pesat di luar perkiraannya.

Namanya berkibar setelah ia mendirikan galeri kerajinan perak Balinesia Inc. di New York, 1986. Ia mengaku modalnya didapat dari hasil “proyek” Presiden Jimmy Carter, yang mengenalnya sebagai duta seni Indonesia. Ia juga sempat mengamen di restoran-restoran untuk menambah modal demi membesarkan usahanya. Suatu hari, seorang pengusaha terkenal yang juga pemilik gerai perhiasan terkenal di Fifth Avenue New York, Henry Bundle, tertarik mengajak Suarti bergabung menjadi model di toko milik Bundle yang menjual perhiasan dari para desainer terkenal di seluruh dunia.

Kiprah bisnis Suarti makin menjadi saat dirinya dipercaya memiliki gerai sendiri untuk memajang karya-karyanya dengan label Suarti Collection, yang mengantarkannya menjadi desainer perak kelas dunia. “Aksesori saya mampu berbicara sendiri,” ungkap Suarti tanpa bermaksud menyombongkan diri. Artinya, “Desain saya mengandung filosofi dan bermakna sehingga mempunyai ‘jiwa’,” tambah peraih Kartini Award 2007 ini.

Memiliki “jiwa”, kelebihan itu yang menurut Suarti menjadikannya bisa menyejajarkan diri dengan para desainer aksesori dunia lainnya yang secara teknis diakuinya jauh di atas kemampuan dia. “Secara teknis kami kalah jauh,” ia mengakui. “Jiwa” yang berhasil ditampilkan pada setiap desainnya, lanjut Suarti, lebih disebabkan kedekatannya dengan budaya Bali dan darah seni yang mengalir deras di tubuhnya sehingga ia lebih mudah berekspresi untuk menciptakan suatu desain.

Talenta dan kejelian mengendus peluang bisnis meluaskan garapan Suarti ke home accessories peranti makan dan perabot rumah tangga, seperti sendok garpu dan hiasan dinding. Juga makin menyebar ke pasar internasional seiring strategi pemasaran yang dikembangkannya lewat dunia maya. Tak pelak, ragam produk Suarti hadir di sejumlah situs belanja dunia.

Keberhasilan bisnis tak membuat Suarti melupakan akar seni tari. Di balik tubuh rampingnya, pemilik beberapa tato di tubuhnya ini aktif memimpin Forum Peduli Budaya Bali yang didedikasikan untuk melestarikan budaya Bali. Sebagai orang yang telah cukup lama berkecimpung di bisnis yang menjual seni, Suarti mengaku paham benar kalau telah terjadi kegiatan ilegal mematenkan motif tradisional. Sehingga untuk bisa memakai motif tertentu, perajin harus membayar sebesar nilai tertentu kepada pihak yang mempunyai hak paten. Ancaman hukuman dan penolakan dari negara pengimpor hasil kerajinan menurut Suarti cukup meresahkan para perajin. “Saya tetap pasang badan di barisan terdepan untuk menjaga warisan budaya leluhur kita. Jangan sampai di kemudian hari kita harus membayar pada pihak asing untuk bisa menggunakan budaya kita,” tutur Suarti.

Kepedulian Suarti untuk bisa maju bersama-sama ditunjukkannya dengan membuka lebar pintu komunikasi bagi yang tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang seluk-beluk bisnisnya mulai dari produksi hingga bagaimana bisa menembus pasar luar negeri. Maka, ia berencana mendirikan sekolah desain plus di mana selain mengajarkan tentang seluk-beluk desain, juga manajemen pemasaran. Tidak hanya itu, di tengah aktivitasnya mendesain dan melakukan perjalanan bisnis, Suarti tidak pernah melupakan obsesinya mendirikan Museum Perak. ”Sebagai bentuk kecintaan saya pada dunia seni, khususnya kerajinan perak,” ungkapnya.

Keterbukaan Suarti dirasakan benar oleh para karyawannya. Suarti yang akrab dipanggil Mami oleh karyawannya ini tak canggung mendidik langsung bila ada karyawan yang baru bergabung. Hal ini dirasakan oleh salah seorang karyawannya, Dewi, yang langsung bergabung begitu lulus SMK Pariwisata, tiga tahun lalu. “Mami baik dan penuh pengertian,” kata Dewi. Menurutnya, Suarti tak pelit berbagi ilmu dengan para pegawainya. Dari Suarti-lah, Dewi yang tidak punya latar belakang pengetahuan tentang perak, sekarang tahu banyak tentang produksi hingga pemasarannya. “Mami tidak menjaga jarak dengan anak buahnya, ” tambah Dewi.

Reportase: Silawati; Riset: Rachmanto Aris Daryoko

Read more...

Pindah Kuadran Membawa Nikmat

Thursday, July 15, 2010

Krisis moneter memaksa Tony Nugroho meninggalkan karier cemerlang, gaji besar dan fasilitas memuaskan. Memulai usaha kecil-kecilan dengan membuka toko kue, kini bidang properti pun dirambahnya.

21 Maret 2010, sebuah kado ulang tahun dihadiahkan Tony Nugroho bagi dirinya sendiri: Tony’s Skatepark. Tempat bagi komunitas skateboarders yang memadukan olah raga, entertainment dan gaya hidup di Jalan Raya Kerobokan, Banjar Semer, Kuta, Bali, ini resmi dibuka pada tanggal itu, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-41. “Buat kado untuk diri saya sendiri,” ungkap Tony, penggagas dan pemilik Tony’s Skatepark.

Di atas lahan seluas 2.000 m2 dengan kapasitas parkir 80 mobil itu, para skateboarder tak hanya bisa unjuk kebolehan ber-skateboard, tetapi sekaligus bisa memanjakan lidah dan penampilan dengan 12 toko (antara lain fashion) dan resto yang tersedia di areal Tony’s Skatepark. “Ini konsep pertama kali di Bali,” ujar Tony. Menurutnya, tempat bermain atau skatepark-nya sendiri bukan bisnis yang menjadi sasaran utamanya. “Boleh dibilang, skatepark-nya sosial karena tarifnya paling sekitar Rp 20 ribu,” katanya. Clothing dan resto yang justru yang ditargetkan meraup pundi-pundi uang.

Dua toko akan dipakai Tony sendiri untuk menawarkan beragam clothing dengan desain dan kualitas yang tak kalah dari merek-merek dari luar negeri. “Saya membuat clothing dengan kualitas kelas satu, sama dengan merek-merek luar negeri, tetapi dengan harga seperempatnya,” imbuhnya. Ia menambahkan, T-shirt yang dibuatnya mengusung lokal heroik, artinya menunjukkan bahwa T-shirt ini asli buatan lokal tetapi didesain seperti buatan merek luar. “Ini waktunya kita melakukan upaya untuk tidak dijajah merek-merek luar, kita harus tunjukkan kita juga bisa,” papar Tony bersemangat. Selama ini, tambahnya, clothing buatan lokal kerap menyamarkan identitas dengan buatan Paris, New York, dan kota fashion dunia lainnya.

Toko yang dibangun Tony seluas 350 m2 itu juga menyediakan papan skateboard, peralatan berselancar, dan aneka barang unik. “Nantinya, toko ini yang saya harapkan akan tumbuh karena market-nya seluruh dunia. Bali adalah jendela Indonesia untuk memamerkan karya ke seluruh dunia,” katanya. Clothing buatan Tony hanya ada di Bali. “Orang harus ke Bali untuk bisa mendapatkannya, ini memang dibuat eksklusif supaya orang datang ke Bali dan ada sesuatu yang bisa dibanggakan.”

Tony’s Skatepark adalah impian Tony lima tahun lalu. Ia memang penikmat Bali. Rumahnya yang asri di kawasan Mega Kebon Jeruk sangat kental suasana Bali. “Saya suka Bali,” ujarnya. Interaksi dengan para ekspatriat di Bali rupanya tak sekadar membuat jaringan pertemanannya meluas. Ia juga mencium peluang bisnis. “Mereka bermain skateboard, mereka punya komunitas besar tapi tidak punya tempat bermain yang memadai. Saya lihat ini sebagai kesempatan bisnis,” ujarnya lagi. Ia lantas mencari tempat yang strategis karena dalam benaknya tempat yang akan ia kembangkan bukan semata arena bermain skateboard. Setelah menemukan lokasi, ia pun menggodok konsep dan desainnya dengan matang. Investasi sebesar Rp 15 miliar dari koceknya sendiri ia gelontorkan untuk mewujudkan Tony’s Skatepark.

Saya optimistis bisnis ini bisa berjalan bagus,” tutur penggemar motor gede ini. Apalagi, menurutnya, konsep dan perencanaannya sudah digodok secara matang. “Saya kalau melahirkan ide-ide harus diolah dulu sekian lama. Dan, karakter positif harus dimiliki seorang pengusaha kalau mau sukses,” katanya. Bagi Tony, berani, percaya diri, ulet, pantang menyerah, konsisten dan jujur adalah karakter yang harus dimiliki seseorang untuk meraih keberhasilan. “Tidak ada yang instan. Sembilan puluh persen dari kesuksesan harus diperjuangkan sekian puluh kali,” tambahnya.

Untuk sampai pada titik seperti sekarang, banyak sandungan dan kendala yang menghadangnya “Saya sampai menjual mobil dan barang berharga lainnya, bahkan rumah disita,” ungkapnya. Satu dasawarsa sudah Tony menapaki lakon sebagai pengusaha, dan tak selalu mulus jalan yang dilaluinya. Mulai dari persoalan sumber daya manusia sampai kehilangan mitra bisnis. “Semua sandungan saya jadikan pengalaman berharga sebagai proses belajar,” ucapnya. Apalagi, ia memulai bisnis dari nol, bahkan boleh dibilang dengan modal nekat.

Sebelum menerjuni bisnis, Tony adalah seorang profesional. Ia manajer senior di PT Pentasena Arta Sentosa. Karier profesionalnya dimulai usai ia lulus kuliah di jurusan Ekonomi Manajemen Universitas Tarumanagara pada 1992. Ia sempat bekerja di perusahaan asuransi dan perusahaan multi level marketing. “Tapi tidak lama karena, selain sulit, penghasilannya juga tidak menentu,” katanya. Masih di tahun yang sama, ia bergabung dengan Pentasena dan memulai karier sebagai management trainee. Setahun kemudian, ia dipromosikan sebagai broker. Seiring dengan perjalanan waktu, ia kemudian sampai pada posisi manajer senior di perusahaan milik Titiek Soeharto itu. “Waktu itu saya sudah mapan. Gaji besar dengan fasilitas terbaik,” ucapnya.

Tahun 1998, seiring dengan lengsernya Presiden Soeharto, perusahaan milik anak Soeharto ini pun gonjang-ganjing. Dalam kurun dua tahun, sejak Soeharto turun dari tampuk kekuasaan sampai tahun 2000, tak ada pekerjaan berarti yang dilakukannya di perusahaan. “Kehidupan saya secara finansial sudah mapan tapi pusing juga karena praktis selama dua tahun tidak banyak yang bisa dikerjakan selain main golf dan meng-entertain orang,” katanya mengenang. Ia melihat ketika itu perusahaan sebenarnya sudah limbung. Akhirnya, tahun 2000 ia memutuskan keluar dari Pentasena. Kondisi tersebut diperparah karena ia memiliki KPR dalam bentuk dolar sehingga utangnya yang semula Rp 400 juta membengkak menjadi Rp 3 miliar dengan kenaikan dolar yang waktu krisis ekonomi melambung sampai Rp 15 ribu/US$. Setelah negosiasi dengan pihak bank, akhirnya rumahnya disita. Tony pun kemudian menjual mobil dan motor gedenya yang kemudian ia belikan tanah di Mega Kebon Jeruk yang kini menjadi tempat tinggalnya

Awalnya, ia berniat bekerja di perusahaan lain. Akan tetapi, ia hanya dijanjikan mendapat gaji setengah dari yang ia terima di Pentasena. “Akhirnya, saya memutuskan bisnis kecil-kecilan,” katanya. Atas dorongan sang ibu yang memang sudah lama menekuni bisnis kue di Semarang, ia pun merintis bisnis kue/cake. “Saya mengikuti saran ibu saya karena memang itu yang ada dan saya orangnya practical,” ucapnya. Saat SMA di Semarang, anak pertama dari empat bersaudara ini memang kerap membantu sang ibu membuat kue. “Saya diajari lagi oleh ibu membuat kue-kue,” tambahnya.

Memulai pergulatan baru, menurutnya, tidak mudah. Yang pasti, ia harus menurunkan gaya hidupnya dan banting gengsi. “Life style saya di-grounded karena harus menyesuaikan dengan kehidupan baru,” tuturnya. Dulu, dengan gaji besar dan fasilitas yang memuaskan, ia bisa membeli mobil bagus — Mercy, Volvo dan Land Rover, serta Harley-Davidson. Ia juga sering bepergian ke luar negeri dengan fasilitas terbaik dari perusahaan. “Ketika saya memulai usaha, kehidupannya njomplang banget, tapi ya sudah, saya jalani saja karena dulu saya juga tidak punya apa-apa, saya berasal dari keluarga yang pas-pasan kok,” tuturnya.

Selama hampir setahun, ia memulai bisnis kue dengan membuat semacam lapak di atrium World Trade Center, tempat ia dulu berkantor. Setiap pagi ia mendorong troli membawa kue dan masuk lift barang. “Para satpam di gedung itu heran melihat saya yang biasa pakai lift eksekutif,” katanya tertawa. Bukan hal mudah menjalani semua itu. Apalagi, tak semua teman dan koleganya bisa melihat secara positif pilihannya berwirausaha.

Tahun 2001 Dewi Fortuna menghampiri Tony. Ia ditawari membuka gerai kue di Pasaraya dengan sistem profit revenue. Itulah gerai pertama Toko Kue Victoria. “Ternyata income-nya bagus, perlahan kehidupan finansial saya membaik,” ungkapnya. Bisnis kue yang ia bangun pun terus berkembang. Tahun 2004, ia membuka Victoria di Automall, di SCBD. Di tempat yang sama ia juga kemudian membuka Resto Kudus. “Saya ingin mengembangkan makanan Indonesia,” katanya. Ia melihat waktu itu masakan Indonesia identik dengan kaki lima sehingga ia tergugah untuk mengembangkan resto dengan menu masakan khas asli Indonesia. “Waktu itu menunya hanya soto Kudus dan nasi pindang, Orang pertama kali masuk ke resto saya dikira soto Kudus yang di Blok M. Setelah tahu bukan, mereka langsung keluar, tapi tamu yang mau nyoba ternyata ketagihan,” katanya tertawa. Untuk memperkuat merek Resto Kudus, ia pun membuka gerai di Plaza Senayan.

Setelah Resto Kudus berjalan bagus, ia tergelitik membuka resto Jepang yang waktu itu belum semarak sekarang. Menggandeng pemilik Automall, ia pun membesut Torro, rumah makan Jepang yang diakuinya dibangun dengan konsep yang lebih cozy dengan harga terjangkau tapi kualitas terbaik. “Torro berjalan bagus juga,” katanya. Tahun-tahun berikutnya, ia kemudian ekspansi dengan penambahan gerai Victoria, Torro dan Resto Kudus di Gedung BRI 2 dan Menara Mulia. Namun, seiring dengan perkembangan bisnis kuliner yang pesat dengan kehadiran mal-mal, ia pun mulai memangkas gerai. Saat ini Victoria, Torro dan Resto Kudus hanya ada di BRI 2 dan Menara Mulia, serta Resto Kudus di Cikini. “Dua tahun ke depan, saya tidak akan ekspansi di bisnis resto, saya prediksi dua-tiga tahun ini akan banyak pemain di bisnis kuliner yang tumbang karena persaingannya sudah sangat ketat. Nah, setelah banyak pemain mati, baru deh saya ekspansi,” katanya seraya terbahak.

Saat ini, ia akan fokus mengembangkan Tony’s Skatepark dan mencari lokasi-lokasi terbaik di Bali. “Ada beberapa lokasi yang tepat di Bali, mau buat properti yang lain dari yang lain. Saya tidak bisa beritahu dulu, nanti bikin orang ngiri, ha-ha-ha,” katanya sembari tertawa berderai. Adapun di Jakarta, ia punya mimpi ingin membangun kawasan kuliner dan budaya dalam satu tempat yang menyajikan aneka masakan dari Sabang sampai Merauke. Tempat itu juga menyediakan panggung besar untuk menampilkan budaya dari berbagai daerah. “Saya sangat concern terhadap budaya Indonesia dan saya pikir kota metropolitan seperti Jakarta seharusnya memiliki satu tempat yang besar untuk menampilkan Indonesia dari sisi budaya, kuliner dan art,” tambah ayah Joshua Bernard (16 tahun) dan Majesta Kiara (9 tahun) ini.

Berani, tidak pernah ragu-ragu berpikir dan mengambil keputusan yang ekstrem, percaya diri, dan selalu melangkah jauh ke depan. Begitulah sosok Tony di mata sahabatnya, Virano. Menurutnya, salah satu sikap ekstrem Tony adalah keberaniannya meloncat dari bisnis kuliner ke bisnis properti. “Agak ekstrem, radikal, kadang tidak masuk di akal. Tapi jadinya akan membuka wawasan kita,” ujar Virano. Ia mengaku sudah lama mengenal Tony. “Ini saya sedang di Bali bersama Tony,” ujarnya ketika dihubungi SWA. Sekian lama bersahabat, dia menilai Tony adalah orang yang hangat. “Orangnya care banget, mungkin karena sahabat, ya, dia bisa jadi teman bertukar pikiran,” kata Virano.

Satu-satunya hal yang harus dimiliki ketika menghadapi Tony adalah kemampuan menerima pemikirannya yang ekstrem. “Kekurangannya itu. Kadang saya jadi kesulitan menebak langkahnya. Tapi pada saat yang sama, itu nanti akan jadi kelebihannya karena selalu melangkah jauh ke depan,” Virano memaparkan. Ia kemudian menceritakan sebuah pengalaman menarik bersama Tony saat berlibur di Bali. “Bulan lalu kami hampir tenggelam di laut. Kami terus berusaha mencapai pinggiran pantai. Akhirnya kami berhasil. Waktu sudah sampai di pinggir, Tony bilang ke saya, ‘Gue makin gak takut sama hidup, udah pernah mau mati kok‘,” kata Virano seraya melempar tawa.

Berani mencoba hal-hal baru. Begitu Shianny Winata yang bersama-sama Tony membuka restoran Jepang menilai sosok Tony. ”Ini kelihatan waktu saya ada ide untuk buka restoran Jepang. Partneran sama saya, dia langsung buka restoran Jepang. Tidak pakai mikir panjang-panjang. Padahal, itu bukan bidang yang dia kuasai. Dia tidak banyak tahu soal makanan Jepang. Saya juga tidak. Kita langsung nyemplung,” ungkap Shianny yang kini Head of HR & General Affair V-Kool Indo Lestari. Tony juga dipandang Shianny sebagai seorang yang kreatif. Tony selalu memiliki ide-ide baru yang menarik dibicarakan. ”Orangnya kreatif. Selalu ada yang baru. Makanya, saya tidak heran ketika dia buka Tony’s Skatepark. Nekatlah, tapi mungkin seperti itu yang bagus. Berani bermimpi, berani menjalaninya,” ujarnya. Ia menambahkan, ”Secara pribadi saya tidak terlalu mengenal Tony karena sebatas rekan bisnis. Tapi sebagai rekan bisnis, dia rekan bisnis yang asyik untuk berbisnis. Orangnya jujur. Fair business. Ya, kita tahu, yang terpenting dalam bisnis adalah kejujuran,” tambahnya.

Dalam pandangan Andrie Wongso, motivator entrepreneurship Action & Wisdom, Tony adalah seorang entrepreneur . Hal ini diungkapkannya melihat berbagai sepak terjang Tony seperti beralih ke industri properti dari kuliner, termasuk keberanian dan keberhasilannya membuka Toko Kue Victoria. “Dia itu seorang yang memiliki jiwa entrepreneur tulen,” ujarnya tandas. Menurut Andrie, ada beberapa kriteria sehingga seseorang bisa dikatakan memiliki jiwa entrepreneur, antara lain percaya diri, cepat mengambil keputusan, memiliki kemampuan menjual, menyukai tantangan dan hal-hal baru, bermental baja alias tahan banting, serta tidak cepat berpuas diri. “Itu akan membentuk jiwa entrepreneurship,” katanya.

Andrie menilai Tony sebagai seseorang yang berani bermimpi. Agar lebih berkembang, Andrie menyarankan Tony mencari “pendamping”. Pendamping yang dimaksud adalah manajemen yang baik. Manajemen harus bisa mengelola semua pencapaian Tony. Manajemen ini nanti akan mengimbangi hawa entrepreneurship Tony yang menggebu-gebu. “Kalau tidak,” ujarnya, “nanti keuangannya bisa jebol. Nah, di sini leadership diuji.”

Menurut Andrie, entrepreneur memang harus memiliki jiwa leadership agar bisnisnya bisa berkembang dengan lebih tertata. Selain itu, inovasi dan diferensiasi produk akan menjadi kekuatan bagi Tony untuk tetap eksis di bisnisnya. Tony harus membuat satu keunikan jika tidak menjadi yang terbaik. “Nanti semuanya (leadership, manajemen, produk dan bisnis Tony) akan tumbuh dan berkembang bersama-sama,” kata Andrie.

Reportase: Ahmad Yasir Saputra

Read more...