Pergulatan 30 Tahun Membesarkan Toko Roti Majestyk

Thursday, September 23, 2010

Toko roti asli Medan ini tetap eksis di tengah gempuran toko roti modern saat ini. Kondisinya makin berkembang di tangan generasi kedua. Bagaimana Anderson Nyam membesarkannya?

Majestyk Bakery & Cake Shop asli Medan, Bung!” kata seorang pria Medan yang sudah lama tinggal di Jakarta bangga. Ya, Majestyk Bakery & Cake Shop yang sudah tersebar di beberapa lokasi di Jakarta memang salah satu kebanggaan warga Medan. Di Ibukota Sumatera Utara itu, namanya sangat dikenal dan telah menjadi identitas kota itu.

Kekuatan itu bisa dimengerti karena Majestyk sudah lebih dari 30 tahun melayani pelanggannya. Eksis sejak 1976 sebagai toko yang menjual aneka roti, kue dan susu, awalnya namanya bukan Majestyk. Ketika itu, Farida Auw dan suaminya cuma mendirikan toko kelontong kecil-kecilan di pinggir jalan. Di tempat yang sama, mereka juga membuat serta menjual roti dan kue.

Barulah pada 1984, ketika Anderson Njam mengambil alih bisnis orang tuanya, dilakukan perubahan besar-besaran, termasuk mengganti nama. Anderson yang waktu itu berusia 18 tahun bersama orang tuanya nekat melakukan perombakan menyeluruh, mulai dari mengubah sistem pengelolaan agar lebih profesional, mengganti mesin produksi dengan yang lebih modern, menambah jenis produk yang diperdagangkan, hingga menggunakan nama dagang baru: Majestyk. “Majestyk berarti kebesaran, seperti kerajaan. Mudah-mudahan seperti itu,” ucap Anderson.

Keberanian Anderson mengambil alih bisnis roti orang tuanya tersebut tentu bukan sekadar bermodal nekat. Kebetulan, ia berminat menekuni bisnis roti dan punya keahlian membuat kue. Maklum, sejak kecil ia sudah diperkenalkan dengan bisnis roti oleh orang tuanya. Bahkan, setiap liburan sekolah ia selalu bekerja paruh waktu sebagai penjaga toko. Selain mendapatkan tambahan uang saku, ia juga memperoleh pengetahuan tentang cara membuat roti dan cara berkomunikasi yang baik dengan konsumen.

Dengan semangat kuat ingin mengembangkan bisnis roti yang dirintis orang tuanya, Anderson pun membeli ruko di Jl. Gatot Subroto, Medan. Dari sinilah toko roti Majestyk mulai dikembangkan secara lebih serius, profesional dan modern.

Sistem manajemen yang lebih profesional diterapkan Anderson guna mengembangkan Majestyk. Berbeda dari orang tuanya, dalam menjalankan bisnis ia menanamkan prinsip “tidak boleh ada campur tangan anggota keluarga”. Artinya, jika suami terlibat, istri tidak boleh turut campur. Demikian pula sebaliknya. Hal ini untuk menghindari terjadinya konflik kepentingan. Ia pun menerapkan sistem pendelegasian wewenang ke setiap departemen. “Sekarang tidak lagi one man show. Dengan perubahan ini, sudah ada delegasi untuk setiap tanggung jawab ke setiap departemennya,” Anderson menjelaskan.

Modernisasi dilakukan pula terhadap mesin produksi. Sebelumnya hampir 80% pengerjaan roti dilakukan secara manual (dengan tangan), sedangkan kini peran mesin mencapai 60%. “Hal ini terjadi karena sudah ada sebagian mesin yang lebih canggih dan otomatis,” kata Anderson. “Tetapi, base-nya dengan arah tradisional. Jadi, peran manusia masih tetap penting dalam produksinya.”

Kendati begitu, perubahan mesin dilakukan sesuai dengan keinginannya. Anderson biasa mengubah sendiri setingan alat itu untuk mendapatkan rasa produk yang sesuai dengan keinginannya. Jadi, ketika membeli mesin, ia tidak langsung menggunakannya, tetapi terlebih dulu dilakukan pengesetan sesuai dengan keinginannya. “Beberapa orang membuat dengan menggunakan machinery seperti tunnel oven, tetapi kualitasnya bisa berbeda. Karena itu, saya sesuaikan sendiri,” katanya memberi alasan.

Menurut Anderson, peralihan produksi dari manusia ke mesin memang sangat signifikan dalam hal peningkatan produksi. Misalnya, satu orang dalam satu jam hanya bisa memproduksi 9 loyang kue legit. Sementara lima orang yang bekerja dengan menggunakan mesin bisa memproduksi 360 loyang kue.

Selain menerapkan sistem manajemen terkontrol dan modernisasi mesin produksi, Anderson pun menstandardisasi mutu dan kualitas. Ini dilakukan seiring dengan bertambahnya cabang Majestyk, sehingga perlu adanya standardisasi mutu dan rasa di setiap cabang. Untuk itu, ia menerapkan sistem premix, yaitu dengan pembagian central purchasing dan central mix. Ini merupakan sentralisasi pembelian bahan baku dan pencampuran bahan baku sebelum dibuat

menjadi kue jadi. “Untuk purchasing saya menerapkan pembelian satu macam produk untuk produksi. Tidak bisa dibuat main-main. Jadi, misalnya, saya bilang di Jakarta belinya segini, di Medan beda lagi, tidak bisa. Jadi, pembeliannya satu sentral.”

Namun, walaupun pembelian dan pencampuran bahannya tersentral, tidak semua produksi kue dilakukan secara terpusat. Beberapa produksi bisa dilakukan di cabang. Untuk pengaturan pembuatannya, Anderson memberikan bagian-bagian yang khusus untuk kontrol mutu dan trial buat produksi kuenya. “Beberapa produksi di cabang ditentukan kapasitas buyers-nya. Maka, ada yang produksi sedikit, ada yang banyak,” katanya.

Sumber daya manusia (SDM) sebagai salah satu aspek penting dalam pengembangan bisnis pun tak luput dari pembenahan. Misalnya, guna meningkatkan kinerja dan pengetahuan karyawannya, Anderson kerap mengirim mereka untuk mengikuti pelatihan atau event di luar negeri, antara lain pelatihan produksi. Pengiriman itu bukan hanya untuk peningkatan wawasan di bidang produksi roti, tetapi juga wawasan bisnis. Menurutnya, hal itu berkaitan erat karena tanpa sisi bisnis, pembuatan roti tidak akan berjalan baik.

Namun, pengiriman pelatihan karyawan tersebut hanya dikhususkan pada manajemen produksi dan pemasaran, tidak mencakup bagian administrasi. Pengiriman karyawan juga ditujukan untuk melihat perkembangan pasar kue di luar negeri. “Setiap negara seperti Malaysia, Hong Kong, Singapura dan Filipina kan tempatnya lain. Jadi, tidak melulu melihat dari bisnis roti saja, tetapi juga melihat perkembangan makanan secara keseluruhan. Nanti dari situ baru melihat aplikasi apa yang bisa diterapkan untuk bakery,” ujar Anderson sembari tersenyum.

Tak hanya itu. Sejak 2005 Anderson mengikutsertakan pegawainya di level manajemen produksi, operasional dan administrasi untuk ikut memiliki perusahaan dengan sistem pembagian saham. Pria kelahiran 1966 yang belakangan memasuki bisnis properti khusus RSS ini juga menawarkan rumah kepada karyawannya yang belum memiliki rumah. Mereka diberi subsidi uang muka dan keringanan mencicil. “Prinsip saya, jika karyawan makmur, sebagai atasan juga akan semakin makmur.”

Di luar itu, inovasi produk terus dilakukan. Setiap bulan sekitar empat jenis roti baru diperkenalkan. Kini, Majestyk memiliki ratusan jenis roti dan kue. Anderson pun sangat memperhatikan sensitivitas pembeli terhadap harga, sehingga harga kue dan rotinya pun sangat terjangkau, mulai dari Rp 1.500/potong hingga ratusan ribu. Harga yang dipatok sama di setiap gerai.

Berkat kerja keras dan kegigihan Anderson, kini Majestyk menjadi salah satu ikon Kota Medan. Didukung sekitar 500 karyawan, yang kebanyakan sudah bertahan puluhan tahun, kini Majestyk memiliki 41 gerai yang tersebar di Sumatera dan Jawa. Produktivitas Majestyk ditopang dua pabrik besarnya yang mempunyai kapasitas produksi 3.000 ton per jam. Juga, didukung beberapa pabrik kecil yang memiliki kapasitas kerja dan sistem distribusi berbeda. “Tahun ini kami targetkan jumlah outlet Majestyk mencapai 50. Saat ini kami juga sedang mempersiapkan sistem franchise,” ujar Anderson.

Selain itu, untuk menghadapi persaingan yang kian sengit, Majestyk telah mempersiapkan sistem integrasi terpadu sejak dua tahun lalu. Kini mereka memiliki kandang ayam sendiri yang mampu menyuplai kebutuhan telur, dan kebun buah untuk kebutuhan pembuatan aneka selai. Lalu, untuk memelihara loyalitas pelanggan, Majestyk juga menawarkan club member bagi pelanggan setia. Setiap tahun, pihak toko menyelenggarakan member gathering untuk melayani konsumen. “Dengan terus melakukan inovasi dan perbaikan di semua bidang, Majestyk mampu bertahan hingga sekarang,” ungkap ayah Tommy, Evelyn dan Andrew ini bangga.

Kendati begitu, diakui Anderson, tidak berarti upaya pengembangan Majestyk yang dilakukannya selalu berjalan mulus. Cukup banyak liku-liku yang dihadapi hingga Majestyk bisa seperti sekarang. Misalnya, ketika akan mengembangkan bisnis, ia mesti menjual rumah dan mobil demi menambah modal kerja. Itu terjadi pada 1987, ketika ia ingin membeli ruko yang ada di sebelah ruko pertamanya. “Setelah semua dijual, yang tersisa hanya satu unit sepeda motor untuk transportasi, dan itu masih ada di garasi hingga sekarang,” kata Anderson sambil tertawa.

Hal serupa juga dialaminya menjelang masa krisis 1998. Anderson mengakui saat itu merupakan masa tersulit yang harus dilaluinya. Menurunnya omset penjualan, karena berkurangnya pembeli, menyebabkan Majestyk hampir bangkrut. Namun, ia memutuskan tetap bertahan, tidak menutup usahanya. Salah satu cara yang dilakukannya adalah menjual aset. Ketika itu, ia menilai lebih aman memegang dana tunai untuk persiapan modal daripada menyimpan aset nonproduktif. Maka, ia menjual rumah dan mobil, kecuali rumah tinggal dan toko. Dan, dengan tambahan modal itu, pada 1999 ia mulai menambah gerai. “Momen 1998 saya pandang tepat saat itu karena saat orang mulai susah berbisnis, Majestyk justru merasa itu peluang emas untuk merebut pasar,” ujarnya bangga.

Menurutnya, pelajaran yang harus diingat dalam mengembangkan bisnis adalah jangan pernah memikirkan profit dulu, tetapi kembangkanlah profesionalitas. “Kebanyakan orang hanya

berpikir seperti itu. Seharusnya dikembangkan profesionalitasnya, nanti profit akan mengikuti,” ungkap Anderson. “Tentu saja masalah akan selalu ada, tetapi jangan sampai patah semangat. Problem is always a problem if you see as a problem, but if you can solve the problem you can finish that problem,” tambahnya mengingatkan.

Kepiawaian Anderson dalam mengelola dan mengembangkan Majestyk ini diakui ahli kewirausahaan Cahyo Pramono. Menurut Cahyo, karakter kewirausahaan Anderson adalah karakter berpola umum yang terjadi di Indonesia dalam tiga dasawarsa terakhir. “Ciri-cirinya, pertama, ada kenekatan karena faktor desakan, baik keluarga, ekonomi atau alasan lain. Kedua, mengandalkan kekuatan mental yang tinggi karena hampir tidak mendapat dukungan dari pihak luar. Ketiga, mewarisi gaya tertentu dari pendahulunya minimal pemahaman bahwa uang tidak datang begitu saja. Keempat, mulai mengenal inovasi. Dan kelima, mulai mencoba manajemen Barat walau kadang hanya kulitnya,” papar Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara itu.

Cahyo menambahkan, era Anderson adalah era peralihan yang cukup berat dalam hal SDM. Pada pertengahan era tersebut muncul tantangan, jika ingin berkembang menjadi lebih banyak atau lebih besar, harus melibatkan banyak orang dan belajar memercayai orang. Karena itu, delegasi menjadi suatu keharusan. Di sinilah terjadi perubahan gaya, tidak lagi gaya one man show yang dulu menjadi budaya tunggal dalam alam bisnis di Medan umumnya.

Penilaian senada dikemukakan Sumarni, Kepala Pemasaran Majestyk. Menurut wanita yang bergabung dengan Majestyk sejak 1987 ini, bosnya merupakan orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi. “Pak Anderson selalu penuh keyakinan dalam mengerjakan sesuatu. Di samping itu, dia juga mempunyai semangat yang tinggi dalam mewujudkan keinginannya,” kata Sumarni memuji. ”Selain tekun dalam bekerja, Pak Anderson juga orang yang loyal dan mempunyai rasa sosial tinggi, baik terhadap karyawan maupun pelanggannya,” tambahnya.

Reportase: Yurivito Kris Nugroho & Julfini (Medan)/Riset: Rifky

Read more...