Pameran Waralaba Terbesar se-ASEAN digelar di Jakarta

Saturday, June 18, 2011

International Franchise License and Business Concept Expo dan Conference (IFRA 2010) kembali digelar, acara ini merupakan pameran waralaba terbesar di ASEAN yang diikuti oleh banyak waralaba negara-negara tetangga.

Acara ini digelar di Jakarta Convention Center mulai 18-20 Juni 2010. Ada sekitar 160 perusahaan waralaba yang berpartisipasi dalam pameran ini. Perusahaan tersebut berasal dari Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand. Ini bisa jadi ajang bagi masyarakat yang mau mencoba berbisnis waralaba.

"Ini termasuk pameran terbesar di ASEAN di Indonesia," tutur Direktur Bina Usaha dan Pendaftaran Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Dede Hidayat ketika ditemui di pembukaan acara tersebut, Jumat (18/6/2010).

Tiket masuk pameran ini memang lumayan mahal, Rp 50.000 per orang. Ini dikarenakan acara tersebut memang bersifat komersil.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia Anang Sukandar mengatakan, IFRA ini bisa menjadi ajang pengembangan usaha waralaba di Indonesia. "Karena memberikan pilihan-pilihan bagi pengusaha yang mau mengembangkan waralaba asing maupun lokal," jelasnya.

Dikatakan Anang, bisnis waralaba di Indonesia termasuk yang berkembang dengan sangat persat. Ini terbukti dari jumlah omset waralaba pada tahun 2009 yang mencapai Rp 114 triliun, meningkat jauh dari tahun 2007 dan 2008 yang hanya mencapai Rp 81 triliun.

"Outlet waralaba di Indonesia juga terus berkembang mencapai 40 ribu outlet pada 2009, naik dibanding jumlahnya di 2007 dan 2008 yang sebanyak 31 ribu outlet," tutupnya.
(dnl/qom)
Read more...

Cuppa Coffe Inc Targetkan 40 Gerai

Salah satu bisnis franchise Dwiputra Group, Cuppa Coffee Inc, menargetkan akan membuka 40 gerai di seluruh Indonesia pada tahun ini.

Bisnis waralaba yang dimulai sejak tahun 2008 ini telah memiliki 17 gerai, sebagian besar berdiri di kawasan Jakarta dan sekitarnya. "Justru size-nya lebih besar, konsepnya juga beda, produk makanan beratnya lebih banyak," ungkap Franchise Manager Dwiputra Group, Cherry Hartadi, kepada Kompas.com, di International Franchise Expo (IFRA) 2011, Jakarta Convention Center, Jakarta, Sabtu (18/6/2011).

Ia menilai, gaya hidup orang Indonesia bukan hanya minum kopi, melainkan juga untuk mengenyangkan perut. "Saat ini ada 17 gerai. Banyak di Jakarta, luar Jawa belum. Tapi ada rencana mau buka di Medan, Lampung, (hingga) Sulawesi. Masih lihat lokasi," tambahnya mengenai rencana penambahan gerai.

Namun, ia menambahkan sasarannya tetap masyarakat menengah ke atas. Mengingat standar kopi yang digunakan bertaraf internasional, tetapi tetap menggunakan kopi lokal dan peralatan dari Italia.

Selama pameran IFRA ini, ia pun menargetkan menjangkau para pengunjung yang berasal dari daerah. "Sudah ada 30-an (pelaku usaha) sih yang tertarik (selama pameran). Tapi masih harus di-interview lagi," ungkapnya.

Tetapi dari angka tersebut memang tidak hanya tertarik pada Cuppa Coffee saja, tapi ada juga yang tertarik di Resto Ce Wei, BASO, Rice Bowl, hingga Mister Baso, yang merupakan variasi bisnis franchise dari Dwiputra Group.

Saat ini, Cuppa Coffee berdiri menyatu dalam mal atau perkantoran. Ia menyebutkan ada rencana untuk membangun terpisah (standing alone), tapi untuk ini harus membutuhkan tanah yang luas, misalnya 400 meter, karena harus menyediakan tempat parkir.

"Cuppa Coffee ada niat untuk buka 24 jam. Seperti untuk daerah (Jakarta) Selatan, (Jakarta) Barat, (seperti) daerah Kota. Karena kehidupan malamnya," ungkapnya, yang juga menyebutkan Cuppa Coffee rencana membangun dengan konsep standing alone di daerah Paramont, Bumi Serpong Damai, Tangerang.

"Di mal, kita enggak pusing karena sudah ada targetnya sendiri. Tapi standing alone, harus sudah lihat pasarnya," tuturnya.

Ia menyebutkan, pembukaan gerai dengan konsep standing alone untuk Cuppa Coffee minimal membutuhkan dana investasi sebesar Rp 700-750 juta. Angka tersebut bervariasi, tergantung dari luas lahan usaha.

Ia percaya waralaba ini akan berkembang sekalipun banyak usaha serupa. "Kalau franchise itu kan sistem, sudah teruji coba. Ada standar," tambahnya.

Untuk diketahui, bagi pengunjung yang berniat memiliki usaha franchise Cuppa Coffee ini, dapat bertanya langsung di stan Dwiputra Group, di JCC, Jakarta, yang akan berlangsung hingga Minggu (19/6/2011).

Read more...

Mencicip Manisnya Waralaba Pisang Ijo Justmine

Monday, April 25, 2011

Bagi anda yang sudah sering ke Makassar Sulawesi Selatan, makanan ringan es pisang ijo sudah begitu familiar. Namun kini pisang ijo mulai banyak dijumpai di luar tempat asalnya.

Melalui bisnis kemitraan (franchise), gerai-gerai pisang ijo satu per satu muncul di berbagai daerah. Misalnya pisang ijo merek Justmine yang dirintis oleh Riezka Rahmatiana dari Bandung.

Senior General Manager Justmine Pisang Ijo Andre Dewantara mengatakan pisang ijo merupakan makanan ringan yang cocok bagi semua umur. Dengan harga yang terjangkau hanya Rp 6000-7000 per porsi menjadikan bisnis pisang ijo begitu menggiurkan.

"Awal dari pisang ijo (Justmine) itu semula kita coba-coba, kita pasarkan di Geger Kalong (Bandung), kondisi bagus kita mencoba untuk franchise-kan," kata Andre kepada detikFinance, Minggu malam (24/4/2011).

Andre menambahkan semenjak dibuat kemitraan pada tahun 2009 lalu kini, jumlah mitra yang sudah bergabung mencapai 124 orang yang tersebar diberbagai wilayah seperti Bandung, Purwakarta, Jobodetabek, Semarang, Jogja, Purbalingga, Surabaya, Palembang, Lampung, Batam dan Manado.

Bagi mitra yang tertarik, lanjut Andre, tawaran bisnis pisang ijo Justmine terbagi dua katagori yaitu paket bisnis A dan paket B. Paket A mitra hanya butuh Rp 10 juta untuk memulai usaha ini dan paket B dengan modal Rp 55 juta.

Melalui paket A, si mitra akan mendapatkan 1 booth grobak dan paket perlengkapannya. Selain itu, si mitra akan mendapat jaminan bahan baku dan pelatihan karyawan termasuk paket promosi seperti banner dan lain-lain.

Gambaran umum dari skema bisnis pisang ijo Justmine rata-rata memiliki margin hingga 25%. Misalnya dengan harga jual Rp 6000-7000 per porsi, dengan omset Rp 240.000 per hari atau Rp 7,2 juta per bulan. Kemudian dikurangi pengeluaran bahan baku Rp 3,6 juta, gaji karyawan Rp 576.000, sewa tempat 504.000 dan over head Rp 720.000 maka keuntungan bersih yang bisa diperoleh selama sebulan setidaknya mencapai Rp 1,8 juta.

Sementara untuk paket bisnis kedua adalah dengan investasi Rp 55 juta, si mitra akan mendapatkan booth ukuran besar bersama perlengkapannya.

Pada paket ini si mitra mendapatkan langsung karyawan yang sudah dilatih, ada proses audit sebagai pengontrol penjualan, pendampingan survey lokasi, ada pelatihan berkala, ada proses pengawasan peralatan dan disiplin dan lain-lain. Selain itu, yang membedakan dengan paket lain adalah adanya pengenaan royalti fee sebesar 5% kepada mitra.

Untuk skema ini dengan perhitungan omset perhari hingga Rp 500.000 atau Rp 15 juta per bulan, kemudian setelah dipotong biaya karyawan, sewa tempat, royalti fee dan over head maka laba bersih yang bisa diraub si mitra bisa mencapai Rp 3,75 juta per bulan.

Kunci utama dari bisnis ini adalah pemilihan lokasi yang tepat. Pemilihan lokasi, menurut Andre sangat tergantung dengan mitra. Lokasi yang disarankan untuk menjalankan bisnis ini antaralain kampus, perumahan dan pusat perbelanjaan.

"Kalau balik modal tergantung mitra, ada yang hanya 8 bulan sampai 1 tahun," jelas Andre

Ia menambahkan salah satu kelemahan dari bisnis pisang ijo adalah bahan baku yang hanya bisa dipakai pada hari itu saja. Sehingga jika bahan baku tak habis maka tidak bisa dipakai untuk hari berikutnya.

"Karena kita tidak pakai bahan pengawet," katanya.

Meskipun ia mengakui tidak semua mitra yang menjalani bisnis Justmine pisang ijo mulus begitu saja. Semua sangat tergantung dengan usaha si mitra dan pemilihan lokasi yang tepat.

"Rata-rata karena baru berlangsung 3 tahun ada juga yang tutup," katanya.

Justmine Pisang Ijo merupakan sebuah merek lokal yang berasal dari kota Bandung yang menyajikan makanan siap saji berupa Pisang Ijo dengan berbagai rasa diantaranya adalah Rasa Vla Vanilla, Vla Coklat, Vla Strawberry, Vla Durian dan Rasa aslinya yaitu Original Makassar

Justmine Pisang Ijo pertama kali berdiri dan beroperasi pada tanggal 16 Maret 2009 di Outlet pertamanya yang berlokasi di Geger Kalong Hilir Dibawah Naungan Perusahaan Ezka Giga Pratama.

Justmine Pisang Ijo

Ruko Metro Trade Centre
Jl. Soekarno Hatta Blok C No.6 Lantai 2, Bandung Jawa Barat.
Email : justmine.service@gmail.com
Read more...

Ciputra Way Mengubah Rongsokan Jadi Emas

Thursday, April 14, 2011

Direktur Ciputra Group Antonius Tanan, MBA, Msc berbagi tips sukses Ciputra Grup dalam mengembangkan usaha. Sharing yang diberi judul "New Venture creation Ciputra Way" disampaikan Antonius dalam Workshop Technopreneurship di Ruang Komisi Utama BPPT, Jakarta, Rabu (13/4/2011).

Definisi kotoran dan rongsokan menjadi emas adalah ketika proses kreatif dan dramatis disertai penerimaan pasar, dan menghasilkan pelipatgandaan sumber-sumber. "Sumber bukan hanya modal, tapi juga termasuk informasi dan koneksi," jelas Antonius.

Cara untuk bisa mengubah rongsokan menjadi emas bisa dilakukan dengan menciptakan kesempatan, melakukan inovasi, dan menghitung resiko. "Kesempatan itu harus diciptakan, bukan dicari," tambah Antonius.

Adapun inovasi, menurut Antonius adalah merancang rangkaian nilai tambah (value chain) sedemikian rupa hingga pelanggan tidak sanggup mengatakan tidak. Anotonius mengangkat contoh kisah sukses inovasi yang dilakukan iPad. "Dengan pendekatan enterpreneurship, maka sebuah produk teknologi dapat dikembangkan jadi sebuah bisnis yang mengalami sukses luar biasa walaupun secara teknologi bukan yang paling terakhir ditemukan," ujar Antonius.

Antonius memiliki data bahwa sebelum iPad, sudah ada produk-produk PC tablet namun tidak ada yang se- sukses iPad. Contohnya Gridpad (1990), Motion Computing (2002), Apple Message Pad (1993). Tidak ada yang menyaingi keberhasilan iPad yang terjual 1 juta unit hanya dalam waktu 28 hari.

Antonius kemudian menjelaskan delapan inovasi bisnis yang merupakan komponen enterpreneurship yang harus dimiliki enterpreneur, yakni : desain, produksi, marketing, keuangan, HRD & Organisasi, konektivitas dan mobilitas, aliansi strategis, serta respon sosial dan lingkungan.

Antonius juga membagikan lima kompetensi esensial yang harus dikuasai seorang enterpreneur, yakni:
1. Business creation, bagaimana mengkreasi bisnis baru yang berbeda;
2. Business operation, bagaimana mengoperasikan ide yang sudah dibuat;
3. Business growth, bagaimana mengembangkan bisnis;
4. Business revitalization, bagaimana menghidupkan bisnis yang sudah berkembang;
5. Business closing, bagaimana agar bisnis tersebut bisa ditutup, tidak menggantung di investor, atau hal lain.

Antonius menutup presentasinya dengan memberikan informasi seputar Universitas Ciputra Enterpreneurship Center yang dimiliki Ciputra Group untuk mendidik calon enterpreneur Indonesia.

Read more...

Waralaba Homeschooling Beromzet Miliaran

Wednesday, April 6, 2011

Bisa jadi karena sekolah formal tidak memenuhi harapan banyak orangtua, maka muncul kesadaran untuk menyekolahkan anak di rumah atau dalam kelompok belajar kecil. Tujuannya agar kemampuan dan minat anak lebih terasah dan fokus mendalaminya.

Homeschooling Primagama (HSPG) melihat celah ini. Lembaga pendidikan ini melayani pendidikan SD hingga SMA dan menyasar kelas menengah ke atas. Pendidikan ini bisa diikuti siswa yang juga bersekolah formal atau siswa yang tidak masuk sekolah formal. "Kami membimbing siswa dengan melihat potensi serta memfokuskan bakat anak," kata Direktur HSPG Kusnanto.

Lembaga pendidikan alternatif ini menggunakan dua kurikulum sekaligus, yakni kurikulum nasional dan kurikulum internasional. Layaknya siswa di sekolah formal, siswa HSPG pun bisa ikut Ujian Akhir Nasional (UAN), juga Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK).

Karena berbasis kurikulum Cambridge International, siswa dapat ikut ujian dari Cambridge. Dengan begitu, siswa dapat memilih mengantongi ijazah formal dengan UAN, ijazah nonformal dengan UNPK, atau ijazah internasional dalam Cambridge International Examination.

HSPG menawarkan bentuk pengajaran individu dan komunitas. Bila siswa ingin belajar di rumah, pengajar Primagama akan datang mengajarinya. Jika siswa ingin belajar dalam komunitas, ia bisa datang ke kelas di kantor HSPG. Satu komunitas belajar hanya menampung maksimal lima siswa. "Satu siswa bisa dibimbing lima atau enam pengajar. Ini karena setiap pengajar mewakili satu atau dua bidang studi," imbuhnya.

Sejak dua tahun lalu, HSPG membuka program waralaba. Hingga saat ini sudah ada 11 mitra HSPG. Di Jakarta sudah berdiri tiga mitra HSPG. "Sebentar lagi HSPG juga akan hadir di Bogor, Denpasar, Surabaya, Balikpapan, dan Banjarmasin," kata Kusnanto.

HSPG menawarkan waralaba senilai Rp 224,5 juta. Nilai ini mencakup biaya kerja sama usaha Rp 75 juta, biaya survei Rp 2 juta, sarana belajar dan perlengkapan Rp 45 juta, renovasi Rp 55,5 juta, pemasaran Rp 37 juta, dan biaya lain-lain Rp 10 juta. Investasi itu di luar biaya tenaga kerja, biaya listrik, air, dan telepon, serta biaya pemeliharaan gedung.

Jumlah guru disesuaikan dengan jumlah dan kebutuhan siswa. Kusnanto mencontohkan, HSPG Yogyakarta memiliki 40 pengajar yang melayani siswa individu dan siswa komunitas. Mitra harus menyediakan minimal lima ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, dan ruang musik. "Ruko dua lantai cukup," ujar Kusnanto.

Pendapatan mitra berasal dari uang pendaftaran, uang SPP per bulan, uang pangkal, uang kegiatan per semester dan uang ujian tiap akhir periode. "HSPG Yogyakarta dengan sekitar 60 siswa dapat meraup omzet Rp 1,7 miliar per tahun," tutur Kusnanto. Ia menargetkan bisa menjaring banyak mitra agar HSPG ada di setiap kota di Indonesia.

Pengamat waralaba Erwin Halim menuturkan, bila HSPG punya target kelas menengah ke atas, lembaga pendidikan ini harus mempromosikan diri di kota-kota besar. "Jalur pemasarannya harus cari bentuk lain, misalnya lewat lomba atau kegiatan yang berhubungan dengan pelajar," katanya.

Erwin menilai pelajar yang mengikuti homeschooling kemungkinan besar tidak memiliki kehidupan sosial serupa pelajar sekolah formal. Pelajar homeshooling belajar secara individual atau hanya di kelompok kecil. "HSPG harus menutupi kebolongan itu dengan cara menyelenggarakan acara-acara unik untuk mendekatkan anak dengan kehidupan sosial," tutur Erwin. (Gloria Natalia/Kontan)
Read more...

Peluang Waralaba Bisnis Batik

Sunday, March 27, 2011

Batik telah menjadi kain kebanggaan Indonesia. Makanya, batik pun menjadi pakaian wajib pegawai di beberapa instansi pada hari-hari tertentu. Alhasil, permintaan batik pun meningkat pesat.

Apalagi, batik tak hanya identik dengan orang tua. Sekarang, batik telah bertransformasi dengan pelbagai macam model yang digemari, mulai anak-anak, dewasa, hingga orangtua. Maklum, perajin batik terus melakukan inovasi, baik corak maupun model pakaian.

Model batik klasik yang terkesan kolot telah berubah menjadi batik modern yang kontemporer, yang tentu kian digemari pencinta dan pemakai batik. Batik pun menjadi pakaian yang cocok dikenakan untuk ke kantor, acara formal, atau santai sekalipun, sehingga menciptakan tren baru di kalangan fesyen Indonesia. Banyaknya penggemar batik menjadi peluang usaha baru. Yakni, penjualan batik berkonsep toko atau butik.

Pemilik Batik Damayanti, Eliza Damayanti, menuturkan, sejak lima tahun membangun perusahaan garmen batik di Solo, ia optimistis usaha batik tidak akan pernah tenggelam. "Batik tak hanya menjadi pakaian untuk segala umur, tapi juga telah menjangkau segmen kelas atas, menengah, dan bawah," ujarnya.

Bahkan, menurut Eliza, segmentasi pasar batik meluas hingga pasar internasional. "Kami pun ingin memberi warna dan hadir dalam memenuhi kebutuhan batik Indonesia dan internasional," ungkap Eliza.

Melihat peluang batik saat ini begitu besar di Indonesia, Eliza memutuskan untuk mewaralabakan bisnis batiknya mulai tahun lalu. Tak hanya mengandalkan kreasi batik dengan model dan motif yang unik, Eliza juga menekankan pada dukungan manajemen untuk gerai milik mitra.

Tiga paket investasi

Eliza menjamin, mitra yang bergabung dengan Batik Damayanti tidak akan mengalami kendala dalam mengembangkan bisnis batiknya. "Ini karena kami mengelola langsung usahanya," papar dia. Eliza menawarkan tiga konsep investasi.

Pertama, Paket Kawung dengan investasi Rp 220 juta. Pada paket ini, mitra harus mempunyai gerai seluas 50 meter persegi.

Kedua, Paket Parang dengan nilai investasi Rp 362,5 juta. Luasan gerai untuk paket ini lebih dari 100 meter persegi.

Ketiga, Paket Sidoluhur dengan luas gerai lebih dari 200 meter persegi. Nilai investasi paket ini mencapai Rp 625 juta.

Nilai investasi pada masing-masing paket tersebut sudah termasuk barang dagangan berupa pakaian batik. Selain investasi itu, mitra juga harus membayar joint fee atau initial fee yang berlaku selama lima tahun. Nilainya disesuaikan dengan jenis paket yang diambil.

Eliza juga mengutip royalti fee 2,5 persen dari penjualan kotor tiap bulan. Saat ini, Eliza tengah menyiapkan dua mitra di Jakarta dan Bogor yang siap meluncurkan grand opening Batik Damayanti, April nanti.

Agar dapat bersaing dengan butik-butik yang menjual batik, Eliza mengedepankan desain pakaian dan motif yang selalu up to date. "Kami punya tim kreatif yang membuat corak dan desain batik untuk tiap season yang berbeda. Saat hari-hari besar, seperti Lebaran, Natal, Tahun Baru, dan Imlek selalu ada model-model baru dari Batik Damayanti," tuturnya.

Selain itu, Eliza juga berusaha menyesuaikan motif batik di mitranya dengan pasar mereka. Untuk mendukung strategi ini, ia memiliki tim desainer yang rutin melakukan survei langsung ke daerah mitra. "Cara ini terbilang jitu untuk mengetahui batik seperti apa yang diterima pasar setempat," ujar dia.

Soal harga, Eliza membandrol batiknya sama di semua mitra, berkisar Rp 75.000-Rp 250.000 per potong. (Mona Tobing/Kontan)

Read more...

Peritel di Indonesia Masih Kurang?

Thursday, March 24, 2011

Perkembangan industri ritel di Indonesia dinilai semakin pesat, tapi dari segi jumlah ternyata peritel masih kurang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk.

Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Benjamin J Mailool Benjamin, Rabu (23/3/2011), saat ini 50 peritel harus melayani satu juta penduduk Indonesia, baik itu minimarket hingga hypermarket. "Itu (Indonesia) paling rendah di kawasan Asia Pasifik. Paling tinggi di Taiwan, sejuta (orang) bisa dilayani 400 retailer. Idealnya berapa? Bisa dibandingkan dengan Bangkok sama Malaysia yang sudah 150 retail," jelasnya.

Menurutnya, pertumbuhan ritel akan bertambah pesat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk. "Menurut saya tidak bisa dihindari akan menuju 150 ritel per satu juta penduduk. Saya lihat pertumbuhan per tahun ada 20 persen," jelasnya.

Mengenai kepadatan jumlah peritel di Pulau Jawa, diyakini Benjamin akan terseleksi oleh alam. Karena kalau telah terlalu padat, para peritel pun akan saling berebut konsumen hingga bahkan tidak bisa menjual produknya.

Read more...

Waralaba, Berbisnis Tanpa Uji Coba

Monday, March 21, 2011

Pilihan berwirausaha melalui bisnis waralaba (franchise) masih belum dikenal luas di Indonesia. Padahal, jenis usaha ini menyodorkan keuntungan dan kemudahan yang tidak dimiliki jenis bisnis lainnya.

"Waralaba melewatkan tahapan uji coba dalam bisnis yang sering kali berisiko, bahkan bisa membawa kerugian," kata Fredy Ferdianto, staf Humas Neo Expo Promosindo, penyelenggara Info Franchise Business Concept (IFBC) Expo 2011 di arena pameran, Jakarta, Minggu (20/3/2011) malam.

Ia menjelaskan, tahap awal usaha merupakan periode paling riskan dalam berwirausaha, terutama bagi pebisnis pemula. Risiko kerugian sangat mungkin terjadi pada tahap uji coba ini. Hal itu bisa memukul mental wirausaha seseorang.

Untuk memperkenalkan berbagai nilai lebih bisnis waralaba itulah, pihaknya bersama majalah Info Franchise dan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) menyelenggarakan Info Franchise Business Concept Expo (IFBC) di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto Kav 27, Jakarta Selatan.

Kendala lain, menurut Fredy, orang awam kerap menghubungkan bisnis waralaba terbatas pada sejumlah bidang usaha yang membutuhkan modal milyaran dan bermitra dengan pihak asing.

Ia menyebutkan, sejumlah contoh seperti bisnis perhotelan, farmasi, bioskop, hingga yang paling dikenal luas, waralaba perdagangan ritel. "Padahal bisnis ini sudah menjangkau usaha mikro dan kecil yang sederhana, misalnya jajanan kuliner, seperti bakso, es cendol, jus, dan masih banyak lagi," tukasnya.

Waralaba sederhana seperti itu, menurut Fredy, hanya membutuhkan dana antara Rp 2-10 juta. Tanpa informasi melalui ajang pameran sebagaimana IFBC 2011, klaim Fredy, mustahil orang-orang bermodal kecil akan melirik bidang usaha waralaba.

Untuk ajang ini, pihak penyelenggara mengajukan dua syarat pokok untuk menjadi peserta. Yang pertama, peserta adalah waralaba yang sudah berusia lima tahun ke atas.

Kedua, peserta wajib menunjukkan prototype usaha, seperti cabang-cabang, mitra usaha, contoh gerai hingga produk. "Ini penting agar pengunjung dan calon mitra memiliki garansi yang akurat tentang bidang usaha yang akan mereka pilih," tambah Fredy.

Banyaknya waralaba jenis kecil yang hadir pada ajang ini mendorong penyelenggara untuk menggandeng Departemen Perdagangan (Depdag) RI. Sambutan positif ditunjukan Depdag dengan menyewakan sejumlah gerai pameran tanpa pungutan biaya kepada 8 label Business Opportunity (BO). BO adalah sebutan untuk rintisan usaha menuju waralaba.

Selain itu, Depdag juga membuka Klinik Bisnis. Klinik ini tidak hanya membagikan cuma-cuma berbagai brosur dan buku terkait prosedur perizinan yang mesti ditempuh setiap agen dan pebisnis waralaba.

"Kami juga menjelaskan mekanisme penyampaian laporan keuangan tahunan (LKTP) dan menjelaskan berbagai peraturan yang harus dipahami mereka yang terlibat dalam bisnis ini," kata seorang staf Depdag yang ditemui di Gerai Klinik Bisnis Departemen Perdagangan RI.

Menurutnya, Depdag sangat berkepentingan dengan ajang seperti ini. "Soal perizinan dan informasi kebijakan waralaba kan menjadi tanggung jawab departemen dan dinas-dinas (Perdagangan)," katanya.

Ajang ini, tambahnya, memberikan kesempatan kepada mereka untuk memberikan pemahaman dini kepada calon wirausahawan.

Ajang yang berlangsung selama 3 hari, 18-20 Maret, ini baru saja berakhir pukul 21.00 malam. Penyelenggara berjanji akan menginformasikan jumlah pengunjung dan total transaksi selama IFBC berlangsung.

Read more...

Tela Krezz, Makanan 'Wong Ndeso' Beromzet Miliaran Rupiah

Monday, January 24, 2011

Makanan lokal kadang kala tak terlalu banyak dilirik oleh banyak orang sebagai potensi bisnis yang menggiurkan. Namun lain halnya dengan Firmansyah Budi, pendiri Tela Krezz ini, yang sudah sejak tahun 2006 memulai bisnis kemitraan makanan olahan singkong atau ketela (cassava) Tela Krezz (singkong goreng berbumbu).

Kisah Firmansyah membangun bisnis makanan olahan singkong dengan bendera Tela Krezz berawal hanya dari satu grobak pinjaman ibu-nya dengan modal awal Rp 200.000. Dari situ ia mulai memiliki keyakinan bahwa bisnis makanan olahan dari singkong sangat berprospek.

Menurutnya, sangat malu sekali jika Indonesia masih terus mengimpor bahan baku pangan yang memang tak bisa berkembang baik di Indonesia seperti gandum. Saat ini kata dia, Indonesia termasuk negara penghasil singkong terbesar ketiga di dunia dibawah Brazil.

Keyakinannya akhirnya terjawab, sekarang ini ia sudah memiliki ratusan mitra Tela Krezz dengan omset yang menggiurkan. Firmansyah terinspirasi mengangkat pangan singkong menjadi makanan olahan karena saat ini pasar pangan dalam negeri sudah dibanjiri produk pangan impor seperti kedelai, tepung gandum, jagung, dan masih banyak lainnya.

"Ini berawal dari keprihatinan saya, sekarang ini bahan baku makanan semuanya gandum, yang impor. Kenapa tak pakai content lokal," kata Firmansyah kepada detikFinance, akhir pekan lalu.

Firmansyah yang lulusan Sarjana Hukum ini, awalnya tak langsung menceburkan diri ke ranah bisnis. Semenjak lulus kuliah 2004, ia masuk LSM bidang pembangunan komunitas (community development), dari situlah matanya terbelalak soal banyaknya kasus bermasalah TKI diluar negeri yang harusnya bisa dicegah jika ada lapangan kerja di dalam negeri.

"Sekarang saya sudah punya 60 karyawan langsung, belum yang outsourcing," kata Firmansyah yang kini merupakan salah satu dari finalis Wirausaha Mandiri itu.

Semangat inovasinya mengembangkan pangan singkong bukan hanya sebatas Tela Krezz, ia juga mengembangkan produk Tela Cake semacam brownies dari singkong, kue Bika Ambon, Bakpia, Keripik Singkong dan lain-lain.

"Saya mimpinya kedepan, orang bisa aware dengan produk lokal kita, kalau tidak maka kita akan tergusur," katanya.

Menurut pria kelahiran Semarang, 5 Desember 1981 ini, mengolah makanan seperti singkong yang sudah terlanjur dipandang sebagai makanan 'ndeso' memang perlu upaya keras. Konsep makanan Tela ia kembangkan dengan membuat makanan singkong lebih moderen dan menarik.

"Kenapa saya tak mau disebut sebagai brownies, saya ingin dengan nama tela cake. Jadi kalau kita bisa olah dengan moderen dan dinamis, kita bisa ubah mindset makanan wong ndeso ini jadi moderen. Harus diubah mindsetnya, makanan itu kan karena kebiasaan," jelasnya.

Untuk urusan pemasaran, Firmansyah sengaja mengembangkan pemasaran Tela Cake dengan konsep makanan oleh-oleh asli Jogjakarta. Ini penting untuk memperkuat image Tela Cake sebagai makanan khas, meski ia pun berencana memasarkan produk tersebut ke pasar ritel umum namun dengan merek yang berbeda.

Ia mengaku saat ini mampu menjual 1000-1500 paket Tela Cake. Harga satu paket Tela Cake dibandrol hingga Rp 28.000, tentunya sudah terbayang berapa omset dari Firmansyah dari hanya menjual brownies ala singkong tersebut. Ini belum dihitung dari produk Tela Krezz-nya yang lebih dahulu ia kembangkan.

Masih seputar pangan lokal, upaya Firmansyah tak cukup disitu. Pada tahun 2009 ia juga mengembangkan produk olahan cocoa atau kakao menjadi makanan coklat yang lezat dan menarik. Kali ini, Firmansyah membentuk divisi khusus di Tela Corporation yang menjadi bendera resmi usahanya.

"Mulai 2009 saya juga membuat produk coklat roso (cokro), yang juga berkonsep makanan oleh-oleh Jogjakarta," jelasnya.

Keinginannya mengembangkan produk coklat, kurang lebih sama dengan kegusarannya terhadap produk tepung pangan impor. Menurutnya Indonesia, merupakan penghasil kakao yang diperhitungkan di dunia, namun minim memiliki produk olahan coklat.

Jika pun ada, produk coklat olahan di pasar Indonesia berasal dari impor dan bermerek asing. Ia berharap coklat buatannya bisa menjadi pilihan pasar dan bisa mematahkan dominasi produk coklat asing di pasar Indonesia.

"Visi saya bagaimana melakukan pemberdayaan pangan lokal," katanya.

Sehingga kata dia, dengan pemberdayaan pangan lokal serapan tenaga kerja lokal semakin tinggi misalnya jika singkong dikembangkan maka berapa banyak petani yang bisa hidup, berapa banyak kuli panggul yang bekerja, berapa banyak pekerja pemotong singkong yang terserap dan lain-lain. Meskipun dengan idealisme yang tinggi, Firmansyah tak gigit jari, usahanya yang dirintis sejak 2006 sudah membuahkan hasil yang fantastis.

"Kalau dihitung-hitung omset saya sampai ratusan juta per bulan. Setahun bisa sampai Rp 10 miliar lebih," katanya.

Bagaimana mau mencoba dengan pangan-pangan lokal lainnya?

Firmansyah Budi
Jl. Bugisan 36, Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta 55251
Email: homygroup@yahoo.com
(hen/qom)
Read more...