Peluang Waralaba Bisnis Batik

Sunday, March 27, 2011

Batik telah menjadi kain kebanggaan Indonesia. Makanya, batik pun menjadi pakaian wajib pegawai di beberapa instansi pada hari-hari tertentu. Alhasil, permintaan batik pun meningkat pesat.

Apalagi, batik tak hanya identik dengan orang tua. Sekarang, batik telah bertransformasi dengan pelbagai macam model yang digemari, mulai anak-anak, dewasa, hingga orangtua. Maklum, perajin batik terus melakukan inovasi, baik corak maupun model pakaian.

Model batik klasik yang terkesan kolot telah berubah menjadi batik modern yang kontemporer, yang tentu kian digemari pencinta dan pemakai batik. Batik pun menjadi pakaian yang cocok dikenakan untuk ke kantor, acara formal, atau santai sekalipun, sehingga menciptakan tren baru di kalangan fesyen Indonesia. Banyaknya penggemar batik menjadi peluang usaha baru. Yakni, penjualan batik berkonsep toko atau butik.

Pemilik Batik Damayanti, Eliza Damayanti, menuturkan, sejak lima tahun membangun perusahaan garmen batik di Solo, ia optimistis usaha batik tidak akan pernah tenggelam. "Batik tak hanya menjadi pakaian untuk segala umur, tapi juga telah menjangkau segmen kelas atas, menengah, dan bawah," ujarnya.

Bahkan, menurut Eliza, segmentasi pasar batik meluas hingga pasar internasional. "Kami pun ingin memberi warna dan hadir dalam memenuhi kebutuhan batik Indonesia dan internasional," ungkap Eliza.

Melihat peluang batik saat ini begitu besar di Indonesia, Eliza memutuskan untuk mewaralabakan bisnis batiknya mulai tahun lalu. Tak hanya mengandalkan kreasi batik dengan model dan motif yang unik, Eliza juga menekankan pada dukungan manajemen untuk gerai milik mitra.

Tiga paket investasi

Eliza menjamin, mitra yang bergabung dengan Batik Damayanti tidak akan mengalami kendala dalam mengembangkan bisnis batiknya. "Ini karena kami mengelola langsung usahanya," papar dia. Eliza menawarkan tiga konsep investasi.

Pertama, Paket Kawung dengan investasi Rp 220 juta. Pada paket ini, mitra harus mempunyai gerai seluas 50 meter persegi.

Kedua, Paket Parang dengan nilai investasi Rp 362,5 juta. Luasan gerai untuk paket ini lebih dari 100 meter persegi.

Ketiga, Paket Sidoluhur dengan luas gerai lebih dari 200 meter persegi. Nilai investasi paket ini mencapai Rp 625 juta.

Nilai investasi pada masing-masing paket tersebut sudah termasuk barang dagangan berupa pakaian batik. Selain investasi itu, mitra juga harus membayar joint fee atau initial fee yang berlaku selama lima tahun. Nilainya disesuaikan dengan jenis paket yang diambil.

Eliza juga mengutip royalti fee 2,5 persen dari penjualan kotor tiap bulan. Saat ini, Eliza tengah menyiapkan dua mitra di Jakarta dan Bogor yang siap meluncurkan grand opening Batik Damayanti, April nanti.

Agar dapat bersaing dengan butik-butik yang menjual batik, Eliza mengedepankan desain pakaian dan motif yang selalu up to date. "Kami punya tim kreatif yang membuat corak dan desain batik untuk tiap season yang berbeda. Saat hari-hari besar, seperti Lebaran, Natal, Tahun Baru, dan Imlek selalu ada model-model baru dari Batik Damayanti," tuturnya.

Selain itu, Eliza juga berusaha menyesuaikan motif batik di mitranya dengan pasar mereka. Untuk mendukung strategi ini, ia memiliki tim desainer yang rutin melakukan survei langsung ke daerah mitra. "Cara ini terbilang jitu untuk mengetahui batik seperti apa yang diterima pasar setempat," ujar dia.

Soal harga, Eliza membandrol batiknya sama di semua mitra, berkisar Rp 75.000-Rp 250.000 per potong. (Mona Tobing/Kontan)

Read more...

Peritel di Indonesia Masih Kurang?

Thursday, March 24, 2011

Perkembangan industri ritel di Indonesia dinilai semakin pesat, tapi dari segi jumlah ternyata peritel masih kurang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk.

Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Benjamin J Mailool Benjamin, Rabu (23/3/2011), saat ini 50 peritel harus melayani satu juta penduduk Indonesia, baik itu minimarket hingga hypermarket. "Itu (Indonesia) paling rendah di kawasan Asia Pasifik. Paling tinggi di Taiwan, sejuta (orang) bisa dilayani 400 retailer. Idealnya berapa? Bisa dibandingkan dengan Bangkok sama Malaysia yang sudah 150 retail," jelasnya.

Menurutnya, pertumbuhan ritel akan bertambah pesat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk. "Menurut saya tidak bisa dihindari akan menuju 150 ritel per satu juta penduduk. Saya lihat pertumbuhan per tahun ada 20 persen," jelasnya.

Mengenai kepadatan jumlah peritel di Pulau Jawa, diyakini Benjamin akan terseleksi oleh alam. Karena kalau telah terlalu padat, para peritel pun akan saling berebut konsumen hingga bahkan tidak bisa menjual produknya.

Read more...

Waralaba, Berbisnis Tanpa Uji Coba

Monday, March 21, 2011

Pilihan berwirausaha melalui bisnis waralaba (franchise) masih belum dikenal luas di Indonesia. Padahal, jenis usaha ini menyodorkan keuntungan dan kemudahan yang tidak dimiliki jenis bisnis lainnya.

"Waralaba melewatkan tahapan uji coba dalam bisnis yang sering kali berisiko, bahkan bisa membawa kerugian," kata Fredy Ferdianto, staf Humas Neo Expo Promosindo, penyelenggara Info Franchise Business Concept (IFBC) Expo 2011 di arena pameran, Jakarta, Minggu (20/3/2011) malam.

Ia menjelaskan, tahap awal usaha merupakan periode paling riskan dalam berwirausaha, terutama bagi pebisnis pemula. Risiko kerugian sangat mungkin terjadi pada tahap uji coba ini. Hal itu bisa memukul mental wirausaha seseorang.

Untuk memperkenalkan berbagai nilai lebih bisnis waralaba itulah, pihaknya bersama majalah Info Franchise dan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) menyelenggarakan Info Franchise Business Concept Expo (IFBC) di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto Kav 27, Jakarta Selatan.

Kendala lain, menurut Fredy, orang awam kerap menghubungkan bisnis waralaba terbatas pada sejumlah bidang usaha yang membutuhkan modal milyaran dan bermitra dengan pihak asing.

Ia menyebutkan, sejumlah contoh seperti bisnis perhotelan, farmasi, bioskop, hingga yang paling dikenal luas, waralaba perdagangan ritel. "Padahal bisnis ini sudah menjangkau usaha mikro dan kecil yang sederhana, misalnya jajanan kuliner, seperti bakso, es cendol, jus, dan masih banyak lagi," tukasnya.

Waralaba sederhana seperti itu, menurut Fredy, hanya membutuhkan dana antara Rp 2-10 juta. Tanpa informasi melalui ajang pameran sebagaimana IFBC 2011, klaim Fredy, mustahil orang-orang bermodal kecil akan melirik bidang usaha waralaba.

Untuk ajang ini, pihak penyelenggara mengajukan dua syarat pokok untuk menjadi peserta. Yang pertama, peserta adalah waralaba yang sudah berusia lima tahun ke atas.

Kedua, peserta wajib menunjukkan prototype usaha, seperti cabang-cabang, mitra usaha, contoh gerai hingga produk. "Ini penting agar pengunjung dan calon mitra memiliki garansi yang akurat tentang bidang usaha yang akan mereka pilih," tambah Fredy.

Banyaknya waralaba jenis kecil yang hadir pada ajang ini mendorong penyelenggara untuk menggandeng Departemen Perdagangan (Depdag) RI. Sambutan positif ditunjukan Depdag dengan menyewakan sejumlah gerai pameran tanpa pungutan biaya kepada 8 label Business Opportunity (BO). BO adalah sebutan untuk rintisan usaha menuju waralaba.

Selain itu, Depdag juga membuka Klinik Bisnis. Klinik ini tidak hanya membagikan cuma-cuma berbagai brosur dan buku terkait prosedur perizinan yang mesti ditempuh setiap agen dan pebisnis waralaba.

"Kami juga menjelaskan mekanisme penyampaian laporan keuangan tahunan (LKTP) dan menjelaskan berbagai peraturan yang harus dipahami mereka yang terlibat dalam bisnis ini," kata seorang staf Depdag yang ditemui di Gerai Klinik Bisnis Departemen Perdagangan RI.

Menurutnya, Depdag sangat berkepentingan dengan ajang seperti ini. "Soal perizinan dan informasi kebijakan waralaba kan menjadi tanggung jawab departemen dan dinas-dinas (Perdagangan)," katanya.

Ajang ini, tambahnya, memberikan kesempatan kepada mereka untuk memberikan pemahaman dini kepada calon wirausahawan.

Ajang yang berlangsung selama 3 hari, 18-20 Maret, ini baru saja berakhir pukul 21.00 malam. Penyelenggara berjanji akan menginformasikan jumlah pengunjung dan total transaksi selama IFBC berlangsung.

Read more...